Di rembang petang 22 September 2012 saya menatap blog, rupaya pihak pengembang membuat desain baru yang membuat saya harus menyusuaikan dengan pola penulisan yang lebih mudah.

Bagi penulis media dan perangkat pendukung mulai dari komputer, jaringan internet maupun suasana hati yang mendukung akan melahirkan begitu banyak ide-ide yang selama ini terpendam di dasar dan tak pernah terungkapkan dengan kata-kata, saat semua ide, gagasan maupun harapan itu terpaparkan lahirlah sebuah julukan baru, Penulis gila, julukan yang diberikan oleh seseorang yang berada nun jauh disana.

 Di petang hari ini, ada mahasiswa saya yang datang menghadap membawa hasil karya berupa proposal untuk ujian skripsinya, dari tulisan yang diberikan banyak mengalami perbaikan, terutama pemisahan kata dan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.  

Di beberapa halaman, saya memberikan catatan khusus, utamanya penggunaan tanda baca, titik, koma dan titik dua, demikian halnya untuk pemakaian awalan, akhiran termasuk penulisan bahasa Inggeris yang saya sendiri tidak terlalu paham sehingga membutuhkan bantuan gogle untuk menterjemahkannya.

Kalau saja sejak mahasiswa sudah menganggap sepele hal yang demikian, maka saya khawatir kelak akan memandang hal yang kecil itu menjadi persoalan biasa saja, padahal dari yang kecil bisa menjadi bumerang, sebagaimana orang bijak berkata, seseorang bukan jatuh dengan batu yang besar akan tetapi bisa tergelincir dari kelikir yang kecil.

Kembali ke pokok bahasan tentang Sang Penulis, semua ini merupakan rakhmat yang perlu dilestarikan, karena menulis itu memperpanjang usia, sebagai contoh,  Buya Hamka, sekalipun jasad beliau sudah lama terkubur namun karya tulisnya masih tetap segar hingga dewasa ini, petuah maupun roman-roman yang di tulis dalam tahanan militer, dapat menjadi pemikat hati di kala sendu apalagi dalam kesendirian dan mencari jati diiri yang sejati.

Semoga julukan Penulis gila akan menjadi pemacu semangat untuk terus berinprovisasi sebagaimana goegle selalu melakukan perubahan untuk kemudahan  dalam mengembangkan potensi diri yang selama ini terpendam, Salamaki.

 

Di tulis di Makassar, 22 September 2012

Di saat rembang petang sebelum menuju Kab. Enrekang.

 


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>