Senja memerah mengitari kotaku Makassar, saat itu sesuai dengan penanggalan almanak, tercatat Hari Jumat Tujuh September Dua Ribu Dua Belas, sebuah perhelatan akbar berupa peluncuran. “SAMPAN INDUK” 

 Sebuah dukungan politik dari para relawan sosial yang terdiri dari Tagana, Karang Taruna, FK-PSM (Forum Koordinasi Pekerja Sosial Masyarakat) dan komponen pendukung dari Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Selatan.

Sampan Induk inilah yang akan mendukung dan menjadi pilar utama, manakala Kapal Induk, sebuah kendaraan operasional milik pasangan Gubernur Patahana (Incumbent) DR.H.Syahrul Yasin Limpo,SH,M.Si,MH dan Agus Arifin Nu’mang (SAYANG Jilid II).  Diharapkan melalui muatan Kapal Induk dan dukungan SAMPAN INDUK inilah akan saling bahu membahu dalam memenangkan pertarungan di gelanggang politik tahun 2013 dalam pemilihan Gubernur Sulawesi Selatan periode 2013 – 2018.

Terlepas dari kontes tersebut diatas, adalah nuansa kepemimpinan dalam sebuah institusi juga mempengaruhi kinerja di jajaran staf, manakala pemegang tongkat kendali kepemimpinan tidak lagi mempercayai bawahan, maka itu adalah awal kegagalan. 
Situasi kerja yang selama ini begitu dinamis, kini berubah dengan hanya sekedar memenuhi ketentuan tugas. Bila seorang yang diamanahkan memimpin dan tak mampu menghayati akan hakekat dari kepemimpinan, maka sudah sepantasnyalah untuk kita mawas diri, agar tidak tereksploitasi dari jargon-jargon kepentingan sesaat dan tujuan terselubung untuk kepentingan perorangan.

Kondisi yang menyelimuti tempat dimana Penulis berkiprah, kini berada dalam suasana yang penuh dengan kegamangan, dan semua langkah, perngorbanan dan cita-cita terasa hambar, beberapa keberhasilan yang di capai dengan kerja tim, berujung pada ketidakpercayaan sang atasan, maka dengan demikian kini tibalah saatnya untuk berada dalam Perlawanan Dalam Diam.
Torehan karya dan peluh yang mengalir, penataan dalam sitem yang terpadu berujung kurang simpatik, hanya karena arogansi dan egoisme yang berlebihan serta onani politik untuk mencapai kursi kerajaan yang membuat silaturahmi terhantuk dalam tatanan kepentingan sesaat. 
Kini semuanya sudah menjadi hambar dan sia-sia, pergolakan yang kedua ini sekaligus merupakan lonceng kematian yang berujung pada pudarnya ketulusan dan hambarnya silaturahmi dalam perjalanan karier yang akan berujung pada kata pensiun atau tetap berada di garis yang tak berpihak……. Salamaki
Di tulis di Makassar, 7 September 2012
Dalam Nuansa Sukma yang sedang terluka.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>