Tiada terasa Ramadan 1433 H telah berlalu dengan membawa kenangan yang begitu indah, banyak pengalaman ritual yang di peroleh selama berada dalam bulan yang penuh rakhmat, maqfirah dan ikkunminaar. Kini sang penulis telah berada di awal Syawal 1433 H, bulan kemenangan, bulan yang penuh dengan tantangan baru, karena akan berhadapan dengan berbagai godaan dan fanorama kehidupan yang makin membutuhkan ketahanan batin untuk tetap tegar dari berbagai tawaran duniawi yang menggiurkan.
Namun ada sesuatu mengguncang sukma, manakala berbelok dari Jalan A.P.Pettarani ke Jalan Sultan Alauddin menuju ke tempat kediaman di Jalan Andi Tonro I No. 6 Makassar. Jalan Mannuruki memiliki kenangan yang amat berarti dalam kehidupan, disini terpancar semangat kearifan dan kebijaksanaan dari mimpi-mimpi yang dahulu dengan segala keterbatasan menelusuri dengan vespa mini yang merupakan transfortasi dalam kederhanaan hidup.
Saat kemapanan merambah, seiring dengan peningkatan perjalanan karier, jalan itu masih tetap bernama Manuruki, hanya saja dewasa ini sudah dilengkapi dengan kehadiran alfamart dan tangki bensin yang dahulu hanya merupakan  kediaman Bapak S.Mengga dari Mandar, apalagi di tempat itu terdapat kuda yang tinggi besar dan menjadi pemandangan sehari-hari setiap kami lewat.
Ada pilu yang tersendat, ada kenangan yang membekas, dan semua itu kini terlintas jelas saat akan berbelok pada jalan yang sama, semoga saja si pembaca naskah ini menjadi sesuatu yang dapat menjadi referensi hidup untuk meraih bahtera yang lebih apik dalam nuansa kearifan yang penuh dengan liku dan perjuangan.
Mannuruki adalah kawasan persemaian kasih, tempat yang telah merubah berbagai perangai hidup, tempat belajar dari seorang dengan perangai sangar menjadi bijak, ” Murid Kualat” sebuah kalimat bersayap yang kadang membuat tawa canda yang riang, entah apa maksud dari semua itu, tentunya hanya akan dirasakan oleh mereka yang telah memahami arti kehidupan.
Kini goresan Manuruki mendapat tantangan baru dalam mengarungi karier di negeri seberang, kuberharap semoga kekuatan magis yang berada di balik perenungan ini, menjadi sebuah azimat yang tak lekang oleh panas dan tak laput karena hujan, tetaplah pada garis dan mimpi-mimpi laksana pelaut Bugis yang selalu tabah dalam tantangan, karena selalu berharap, pasti ada masa  reda di balik ganasnya gelombang, sebagaimana janji Tuhan dalam Al-Quranul Kariem, Innamaaal Yusri Yusra, setelah kesulitan akan datang kemudahan, karenanya percayalah paada harapan bukan pada ketakutan.
Ditulis di Makassar, 28 Agustus 2012
Saat akan melintas di Jalan Manuruki

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>