Di Kandang belakang rumah, saya memelihara beberapa ekor ayam pemberian teman-teman anggota Tagana bila berkunjung ke daerah, ada pula yang sengaja membawa langsung ke rumah Penulis, setelah mengetahui, kalau Sang Penulis memang hobby pelihara ayam. Apalagi saat ini, tengah dikembangkan Ayam Gaga, kalau di Sulsel dikenal dengan “Ayam Ketawa.” 

Menyongsong perhelatan akbar 1 Syawal 1433 H, Ayam ketawa milikku terserang flu burung, sejumlah peliharaan mati mendadak, yang masih berhasil diselamatkan, ada beberapa ekor di sembelih saat fisiknya masih segar, sementara  enam ekor lainnya yang sering bersuara nyaring dan ketawa panjang, mati menjelang akhir Ramadan, ironisnya, Sang ayam gaga sedang berkokok nyaring, 
Di saat mengeluarkan suara tertawa, kok…kok….kokoooook, suara nyaring yang  panjang itu membangunkan diriku untuk santap sahur, akan tetapi di akhir kokoknya, langsung terjatuh dari tempat bertengger, Sang Ayam Gaga itu, Mati sambil tertawa, hehehehe.
Sebuah kematian yang langka, namun  sang pemilik tersipu dibuatnya, kalau manusia yang berpulang kerakhmatullah dengan khusnul khatimah, pasti kelihatan di raut wajahnya sedang tersenyum. Akan tetapi setelah kembali di renung, ternyata memang di dunia ini, tidak ada yang abadi, semua sifatnya sementara, 
maka janganlah terlalu ingin memiliki sesuatu sepanjang masa, karena semua yang bernyawa, termasuk tumbuh-tumbuhan dan hewan akan menemui ajalnya, sesuai dengan ketentuan Ilahi rabbi. Ebit G.Ade dalam syair lagu yang dilantunkan mengatakan, sesungguhnya kematian itu adalah tidur panjang maka mimpi indahlah, namun sebelum bermimpi indah,

mari kita mengembangkan potensi diri dan mengisi setiap relung kehidupan dengan membingkai kebahagiaan, akan tetapi bila mana kita gagal dalam meraih bahtera yang diimpikan, maka tertawalah sejenak, karena sesungguhnya tertawa itu sehat. Dewasa ini, tertawa bagi kebanyakan warga masyarakat merupakan barang langka, karena itu kita butuh Srimulat, Tarzan, dan lain-lain.

Seseorang yang tidak dapat lagi tertawa, manakala megaproyek yang menggiurkan sedang dilanda musibah bencana alam, atau sedang berurusan dengan KPK, seperti Nazaruddin dengan kasus Wisma Atlit di Hambalang, atau Jenderal Polisi yang terkait kasus simulator SIM, maupun karena

gagal dalam mengembangkan rumah tangga sakinah, disebabkan pasangan hidupnya yang hanya sekedar diuntungkan tanpa tanggungjawab, Sang suami tidak mampu memberikan nafkah material maupun nafkah batin, atau karena gagal dalam Pilkada, sehingga tidak dapat menduduki kursi empuk, membuat dirinya berada dalam kesengsaraan dan sulit tertawa sebagaimana ayam ketawa yang sudah terkapar
Ternyata Ayam Gaga itu telah menginspirasi tulisanku, sebagai salah satu obat mujarab, Ayam saja bisa tertawa, apalagi kita sebagai khalifah di muka bumi ini, harus mampu tertawa, karena ketawa yang renyah akan memberikan spirit baru untuk mengembankan ketertinggalan.
Suatu ketika ada teman saya bertanya, kenapa jarang pelawak muncul dari Sulsel, karena mereka adalah suku pelaut, sehingga terjangan ombak yang mengggulung-gulung dihadapi dengan ketegaran dan sikap hidup, pantang surut ke pantai, karenanya senyum, tertawa merupakan barang langkah untuk dikembangkan, 
Tetapi sekali dilahirkan untuk bisa membuat orang tertawa, tentunya jenis ketawanya juga berkualitas, sebagaimana ditampilkan Ustas kondang yang suka membuat kita tertawa, contohnya Ustas Maulana dengan slogan jamaaahnya, dan kita patut berbangga serta  memberikan apresiasi yang tinggi agar mampu tertawa ??? termehek-mehek tapi tidak perlu mati mendadak, seperti Ayam Gaga kesayanganku, salamaki.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>