Hari Terakhir Ramadan

Bulan dan bintang  di angkasa raya menampakkan dirinya semakin mengecil, ini memberi sinyal kepada umat manusia di dunia bahwa Ramadan 1433 H akan berakhir di hari Sabtu, 18 Agustus 2012, seiring dengan hadirnya hilal, sehingga 1 Syawal 1433 H jatuh pada Hari Minggu 19 Agustus 2012, Pengurus Pusat Nahdatul Ulama yang selama ini selalu memegang teguh prinsip wujudul hilal, akan menyaksikan dengan mata telanjang.
tentang keberadaan dan posisi bulan, sehingga dapat dipastikan bahwa tanggal 1 Syawal 1433 H, akan jatuh pada hari Minggu,
mengingat pada saat terbenam matahari, hilal berada pada posisi 6 s/d 7 derajat. Tak mau kecolongan lagi dengan pandangan Muhammadiyah yang sudah lebih awal menetapkan hari lebaran, maka sidang Isbat di Kementerian Agama Republik Indonesia,   akan mempercepat pengumuman penetuan lebaran sehingga masyarakat dapat merayakan idul fitri secara
bersama-sama baik NU maupun Muhammadiyah. Berbeda halnya dengan mereka yang menganut paham Naqabandiyah di Padang, sudah lebaran sejak hari Kamis 16 Agustus 2012, sedangkan Golongan An-Nasir di Kabupaten Gowa, menetapkan tanggal 17 Agustus 2012, akan tetapi bersamaan dengan peringatan HUT Kemerdekaan R.I. ke-67 maka pelaksanaan Idul Fitri ditangguhkan sehari, sebagaimana di zaman Nabi, pernah juga dilakukan hal yang sama, karena bersamaan perayaan hari
 raya umat Nasrani, sehingga baru dilaksanakan pada hari Sabtu 18 Agustus 2012, sehari lebih cepat dari Muhammadiyah dan NU atau putusan pemerintah. Terlepas dari semua itu, ada keharuan melepas bulan yang penuh berkah, rakhmat dan ikkunminaar. Dalam bulan ini bacaan Al-Quran ditamatkan, Sholat Lail ditingkatkan dan hubungan silaturahmi semakin mantap, ditandai pula dengan buka puasa bersama. Di luar bulan suci Ramadan, kondisi semacam ini akan sulit kita jumpai, maka benarlah 
Firman Allah dalam Al-Quranul Kariem, “Seandainya hambaku tahu tentang posisi Ramadan, maka hambaku akan memintanya untuk satu tahun Ramadan secara penuh”. Tetapi Tuhan telah memformat manusia dan memberi dua jalan kehidupan, bahwa sesungguhnya di bulan suci Ramadan adalah dua komponen besar yang bermain yaitu “kebenaran” dan “kebatilan” demikian halnya terhadap pelakunya hanya dua “Manusia” dan “Setan”. Bagi mereka yang melaksanakan puasa Ramadan
 dengan penuh keikhlasan, seraya melaksanakan sholat tarwih dan sholat-sholat sunah lainnya, maka sesungguhnya Dia telah memilih jalan kebenaran dan manusia itu berhak meraih predikat “Laallahkun Tattakun” demikian halnya bilamana di bulan suci Ramadan, kendali napsu tidak dapat di kekang, bahkan tidak melakukan ibadah puasa, maka sesungguhnya dia telah bersekutu dengan setan dan memilih jalan kebatilan, manusia yang tergolong demikian yakinlah, neraka jahannam telah
 menantinya dan kehidupannya yang bergelamour harta, kelak akan menjadi kayu bakar bagi dirinya. Ramadan akan berlalu, banyak pengalaman rohaniyah yang di peroleh pada masing-masing hamba yang merasakannya, semuanya itu tak dapat digambarkan dengan kata-kata, karena sesungguhnya menjadi pengalaman pribadi yang penuh dengan kasih sayang Allah, terutama di malam Laitulah Qadar, para Malaikat turun ke bumi untuk membawa penentuan nasib dan peruntungan hamba Allah,
 termasuk jalan kehidupan dan kematiannya untuk satu tahun ke depan. Oleh sebab itu, di hari terakhir Ramadan ini, mari kita senantiasa berdoa, agar dipanjangkan usia, dimudahkan rejeki serta kemantapan iman di dada, untuk mengarungi perjalanan panjang 11 bulan ke depan dan kita memasuki hari kemenangan 1 Syawal 1433 H dengan ucapan “Taqaabaalaallahu minkum, minal aidzin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin.” 
Dan kepada para pembaca setia blog ini, Penulis ucapkan selamat merayakan hari kemenangan 1 Syawal 1433 H semoga tahun depan kita masih bisa bersua dengan hari terakhir Ramadan, barakallah.
Ditulis di Makassar pada hari Sabtu 18 Agustus 2012
Menjelang Sholat Ashar dan menyongsong malam takbiran
Allahu akbar 3x Walillahiham….. Salamaki

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *