Nangka Silaturahmi

Nangka sebagai buah yang selalu digunakan disaat buka puasa dalam bulan suci ramadhan, buah nangka ini juga banyak dijumpai di restoran dalam bentuk jus,

Nangka adalah buah berbiji dengan warna kuning kalau sudah matang,  di sebut dalam bahasa daerah Makassar “Rappocidu” yang berarti Rappo artinya buah dan Cidu artinya runcing, maksudnya buah yang memiliki biji yang runcing. 

Menjelang lebaran, keluarga dari kampung datang membawa buah nangka, sekaligus beras baru, ini pertanda bahwa dia baru saja selesai panen dan berhasil dengan baik. 

Dalam kajian antropologis masyarakat desa membawa barang-barang ke kota demikian halnya masyarakat kota akan membarter barang tersebut dengan kebutuhan di pedesaan. Dewasa ini,  hal itu sudah tak lazim lagi, karena mol di perkotaan bahkan Indomaret sudah menjamur sampai di kampung-kampung dalam kota.

Sehingga segala kebutuhan perkotaan mampu dipenuhi sesuai kebutuhan dan selera warga kota. Akan tetapi di sebahagian masyarakat, masih melekat bingkai silaturahmi, sehingga bila berkunjung ke keluarganya di kota seakan tidaklah lengkap, bila tidak membawa hasil pertanian mereka. Demikianlah apa yang kami alami di hari Minggu 12 Agustus 2012, 

keluarga dari kampung, datang membawa nangka dan beras baru, tentunya semua ini harus pula dijawab dengan konsep budaya. Bila engkau menerima dua maka balaslah empat, walaupun dalam dunia matematika tidak akan pernah terpenuhi akan tujuan hasil akhir, akan tetapi kehadiran sanak family dari kampung yang membawa hasil pertaniannya perlu dijawab dengan bahan yang lebih membahagiakan. 

Lain halnya dengan kondisi perkantoran, kata silaturahmi yang digunakan oleh mereka yang mengaku wartawan atau WTS (wartawan tanpa surat kabar) mendatangi para pejabat, di buku tamu selalu di tulis kata ingin “Silaturahmi” dengan sang pejabat. Rupanya kalimat silaturahmi seperti ini dimaksudkan sebagai permintaan halus, terlebih menjelang lebaran. Dengan demikian, kata silaturahmi yang sesungguhnya bermakna mempererat tali

persaudaraan berubah wujud dalam bentuk pemberian amplop untuk hari raya, diluar hari-hari yang disebutkan diatas, gaya permintaan juga burubah menjadi susutante (sumbangan sukarela tanpa tekanan), dengan jalan membuat rancangan kerja, seakan-akan membangun kantor atau biro surat kabar yang masih membutuhkan tambahan biaya.Biasanya di ujung kegiatan  dari pengumpulan sumbangan, kantor dimaksud tak ada

Dan pemberitaan juga tak termuat di media, karena memang yang bersangkutan tak memiliki media tetap. Bagaimana dengan fenomena sosial lain dalam pembagian zakat, disini dapat kita saksikan dalam pemberitaan media elektronika, seorang yang akan memberikan zakat fitrah mengumpulkan kaum dhuafa untuk mengambil sendiri ditempat penyaluran zakat,

Dalam proses mpemberian bantuan atau penyaluran zakat seperti ini, kurang efektif karena terkadang menimbulkan korban jiwa. Nah, bagaimana seharusnya kita menyalurkan bantuan dan bersilaturahmi dengan baik, bawalah bantuan sendiri ke tempat kaum dhuafa, sebagaimana Khalifah Umar bin Khattab yang menggendong sendiri gandum dari gudang dan membawakannya ke rumah warganya yang sangat membutuhkan, atau dewasa ini

kirimlah bantuan anda melalui ATM dan tanpa perlu publikasi selain dari mengharap ridha Allah semata-mata, itu salah kunci untuk menjalin silaturahmi, terutama untuk sesorang yang jauh disana yang selalu berujar, sebaik kepadamu …. Salamaki.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *