Merantau ke Malaysia Pulang Dengan Kaki Buntung

Roy Marten alias Zaenal (25 thn) TKI asal Jeneponto Dusun Bungung Barania Desa Bonto Matene Kecamatan Turatea, terpaksa pulang kampung dengan tangan hampa dan kaki kanan di amputasi setelah musibah yang menimpa dirinya di kebun sawit di Malasya.
Ikhwal perantauan Zaenal  diawali sejak tahun 2004 merantau ke Malaysia  melalui pelabuhan Parepare, meninggalkan seorang isteri dan anak laki-lakinya termasuk orang tua kandung dan enam orang saudara kandungnya. Selama dalam perantauan hanya sekali pernah mengirimkan uang sebesar  Rp 2 juta rupiah dan sesudah itu tak pernah ada lagi kabar beritanya, termasuk ketika isterinya minta cerai karena lama tak dikabari bahkan tak diberi nafkah, akhirnya isterinya bersuami karena menganggap sudah meninggal dunia.
Kini Roy Marten sudah kembali ke daerah asalnya di Jeneponto, kedua orang tuanya menyambut kembali anaknya yang sudah lama merantau, mereka pulang dengan tangan kosong bahkan kaki di amputasi, tapi bagi seorang ibu, adalah berprinsip, kasih anak sepanjang galah dan kasih ibu sepanjang jalan, apapun kondisinya Ibu kandung menerima dengan lapang dada.
Semoga saja ke depan tidak ada lagi Roy Marten atau Zaenal yang lain yang merantau ke Negeri Jiran malaysia dengan hanya membawa keterampilan kuli dan latar belakang pendidikan lulusan sekolah dasar karena mereka akan menjadi buruh kasar dan akan menjadi permainan para calo dan pengerah tenaga kerja yang hitam, yang mengais rejeki dengan mengekloitasi kemampuan dan ketakberdayaan tenaga kerja kita, dimana semua pelakunya juga adalah terkadang dari kalangan se kampung, satu suku bahkan ada satu kecamatan, sehingga meninimbulkan adigium yang membuat kita miris, dan di kalangan mereka terkenal dengan istilah Bugis Makan Bugis dan Jawa Makan Jawa.
Sebuah kenyataan pahit yang kita terpampang di depan mata kita dan menjadi fenomena keseharian di masyarakat, maka sudah sepantasnya bila pemerintah, dunia usaha dan masyarakat lokal untuk membangun yang tersisa melalui peningkatan sumber daya manusia yang berbasis kearifan lokal sehingga pengentasan kemiskinan dapat di selesaikan di hilir bukan di hulu yang menyebabkan beaya tinggi dan sistem rehabilitasi sosial yang sungguh amat mahal nilainya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *