Kemiskinan yang membelenggu dirinya membuat semangatnya membara untuk mengubah nasib, agar bisa membantu neneknya yang sudah berusia lanjut serta membayar utang almarhum Ibunya yang bernama Sarikem.Lina Andriani Bin Sarkam anak kedua dari pasangan Ayah Sarkam dan Ibu Sarikem beralamat di Dusun Ngatiloe Kecamatan Fujel Kabupaten Kediri Jawa Timur. Di dorong keinginan mendapatkan uang maka Lina izin ke neneknya untuk mencari lapangan pekerjaan di Surabaya. Akhir Juli lalu berangkatlah dari Kediri menuju Surabaya dengan jarak tempuh dua jam perjalanan darat. Tiba di terminal Bungur Asih Surabaya bertemu dengan seseorang yang menawarkan jasa pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga, tanpa basa-basi Lina Andriani diantar ke sebuah yayasan di Surabaya, namanya Yayasan Pengerah Tenaga Kerja dan merekrut para pembantu rumah tangga, namanya Yayasan Banyu Urip Surabaya.

Di Surabaya  Lina Andriani hanya numpang menginap selama dua malam tanggal 26 s/d 28 Juli 2012, karena ada permintaan dari Jakarta. Oleh pihak yayasan mengirim Lina Andriani ke Yayasan Mulia Jaya di Kawasan Pasar Senen Jakarta. Pikiran Lina akan memperoleh pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga di rumah gedongan menjadi buyar saat bertanya kepada ketua yayasan, bidang pekerjaan apa yang akan ditekuni, Lina malah mendapat jawaban, Diam saja, tutur ketua yayasan dengan tegas. Ternyata Lina Andriani bersama lima rekannya diterbangkan dari Jakarta ke Palu via Makassar. 
Tanggal 31 Juli 2012, Lina bersama rombongan enam orang berangkat dari Pelabuhan Udara Soekarno Hatta dengan pesawat LION  Pukul 17.00 WIB, diantar seorang lelaki yang berperawakan sedang, warna kulit hitam dan rambut plontos alias botak, lelaki ini memperkenalkan namanya dengan panggilan Pak Nur. Dalam perjalanan Jakarta-Makassar fikiran Lina mulai berkecamuk karena ternyata tawaran bekerja sejak turun dari Surabaya ke Jakarta adalah jaringan sindikat perdagangan orang (trafiking), ini dapat diamati melalui tingkah laku teman-temannya yang masih berusia muda namun sudah mulai terus merokok seperti sepur, tutur Lina kepada Penulis.
Tidak, demikian Lina berikrar dalam benaknya, saya harus lolos dari cengkraman perdagangan wanita desa yang lugu, saat mendarat di Pelabuhan Udara Makassar, Lina dan kawan-kawan naik kendaraan travel menuju terminal. Karena Lina yang memakai jilbab, dipaksa untuk buka jilbab dan menggantinya dengan pakaian you can see, Lina menuruti saja keinginan Pak Nur, di sekitar tangki bensin Pak Nur mengarahkan agar Lina mengganti pakaian di kamar kecil. Setelah semua beres, kendaraan menuju terminal bus di Daya.
Lina memperhatikan posisi tasnya ternyata berada di tumpukan paling bawah, berarti agak sulit kalau kabur bawa tas, tapi tekadnya sudah bulat, saya harus kabur, tuturnya kepada Penulis.Memasuki terminal Daya, kendaraan yang ditumpanginya singgah sejenak makan malam, berkali-kali Lina di panggil oleh Pak Nur untuk makan malam tapi Lina menolak dengan alasan kenyang, pada waktu buka puasa sudah lewat, Lina hanya menenguk aqua yang dibawanya dalam perjalanan.
Disaat Pak Nur dan anak-anak dari Yayasan Mulia Jaya Pasar Senen Jakarta, Lina Andriani turun dari mobil dan menyelinap diantara bus yang parkir langsung naik sebuah kendaraan angkutan umum (pete-pete) jurusan kearah sentral. Lina duduk saja di mobil dengan tenang dan kemanapun mengarah juga tidak tahu, baginya yang penting lepas dulu dari Pak Nur yang akan menjualnya kepada seseorang yang ada di Palu (Sulawesi Tengah). Mobil yang ditumpangi Lina berhenti di ujung utara Pettarani, selanjutnya Lina berjalan kaki hingga menemukan sebuah kantor yang dijaga sekuriti.
Lina memohon untuk bisa menumpang di Pos Jaga sambil besok mencari Dinas Sosial setempat, fikiran mencari Dinas Sosial karena waktu di Kediri aktif di LSM yang bergerak di bidang HIV-AIDS bahkan pernah ikut pelatihan keterampilan tat arias pada salah satu panti sosial di Kediri. Oleh pimpinan panti mengingatkan, kelak kalau merantau dan tedampar di suatu pulau, maka segeralah berhubungan dengan Dinas Sosial dimana saja berada, rupanya kalimat itu terekam dalam benaknya, sehingga uangnya yang Rp 30.000,- habs digunakan untuk sekedar mencari alamat yang dimaksud.
Menjelang sore hari, Lina Adriani alumni sekolah Madrasah Tebu Ireng ini, memutuskan untuk berjalan kaki, prinsipnya saya harus tiba malam ini di Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Selatan. Setelah bertanya kesana kemari, akhirnya tiba di salah satu Masjid, setelah buka puasa dan sholat magrib, Lina diarahkan oleh seorang penjual kelapa di Pettarani dan Alhamdulillah, Lina Andriani tiba di Dinas Sosial disaat menjelang sholat tarwih.
Kepada Pengurus Masjid Al-Muawanah Sosial, Lina meminjam mukena untuk sholat isya berjamaah sekaligus tarwih, setelah semua kegiatan ritual, oleh pengurus mesjid mengemukakan pengalamannya yang nyaris diperdagangkan sebagai pemuas seks di Kota Palu. Rasa syukur terpancar dari air mukanya karena selamat dari maut, Lina mengucapkan terima kasih kepada Sang Maha Penolong karena dapat lolos dari cengkraman perdagangan orang, Lina mendapat mukena baru dari Imam Ibrahim Bin Khaer dan uang tunai sebesar Rp 20.000,- dari bendahara masjid Sdr. Syarifuddin.
Untuk menumpang tidur, santap sahur dan mencari pakaian ganti, Lina Andriani diajak ke rumah ketua masjid yang terletak di Kawasan jalan Andi Tonro I No. 6 Makassar, dengan dibonceng sepeda motor oleh petugas mesjid an. Muh. Hendrik Wibawa, akhirnya Lina Andriani tiba dan menginap di rumah Ketua Masjid, keesokan harinya Lina melapor ke Seksi KTK-PM (Korban Tindak Kekerasan dan Pekerja Migran), Dra.Hj.Andi Tenriola dan selanjutnya melalui surat pengantar yang bersangkutan dikembalikan ke Kediri melalui Dinas Sosial Surabaya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>