Jarum jam menunjukkan angka 23.31 wita, mataku belum juga mau terpejam, semua pintu rumah sudah tertutup rapat, keheningan malam mulai melingkupi seluruh jagat raya di malam ke delapan Ramadan 1433 H. Kuberanjak ke depan komputer, entah apa yang memaksa diriku sehingga seluruh potensi yang kumiliki saya kerahkan untuk menuliskan sesuai naluri dan perasaan yang terus menggelayut memenuhi seluruh ruang khayalku.

Hembusan angin air condition (AC) membuat ruang kamar kerja menjadi dingin, walaupun masih ada satu dua nyamuk kecil yang datang menggigit, mungkin saja nyamuk itu adalah nyamuk nekad karena di tengah dinginnya kulit ari ku dia datang menggigit dan mengganggu konsentrasiku, kubiarkan dia terus mengigit hingga terbang kembali entah kemana, kecuali bekas gigitannya yang gatal dan membuatku bereaksi untuk menggaruknya.
Nyamuk itu mungkin saja akan mencari tempat perlindungan untuk menyelamatkan tubuhnya yang sudah kenyang atau mencari mangsa lain di tempat yang berbeda, saya sendiri tak mengerti kemana ia berlarinya, demikian pula tak mengerti kemana arah naskah ini berakhir.
Tapi kucoba untuk kembali berhenti menindis tuts komputer yang amat lincah karena hanya dengan sentuhan ringan dapat terbentuk sebuah kalimat indah yang terkadang membuat sang pembaca setia bergelimang air mata.
Maafkan daku, tak pernah ada niatan untuk membuatnya lunglai dalam dekapan naskah yang kubuat, semua ini hanya deburan perasaan yang berkecamuk dalam heningnya malam.  Kini fokus perhatian mulai kutemukan dengan mengenang kembali masa silam yang penuh dinamika hidup. Refleksi kehidupan dalam kesederhanaan dan kenyataan hidup memang berbeda namun ada yang tetap abadi yaitu perasaan yang selalu Tawaddu Kepada Sang Khalik.
Ya Rabb… begitu banyak rakhmat yang telah kami peroleh, begitu banyak kehormatan dan kasih sayang yang  telah aku dapatkan, namun hamba terkadang ingkar dan lalai dalam tugas mengabdi dan sujud di keharibaan-Mu, aku tak mampu lagi monerahkan kata karena dapat membuat seseorang berlinang air mata.Tapi Ya Rabb… dalam keheningan ini aku semakin menemukan jati diriku yang sesungguhnya aku bukan siapa-siapa tanpa kasih sayang-Mu, kuingin semua sisa hidup ini kuabdikan hanya kepada-Mu semata, namun seiring berjalannya waktu, bahwa sesungguhnya kehidupan yang baik itu adalah keseimbangan.
Tiba-tiba saja semua anganku hilang saat BBM malam berdentang dari handphone yang selama ini tak berdering, dari seorang sahabat berujar, selamat menunaikan Sholat Lail (malam) dan selamat berpuasa, ucapan ini selama sebulan lamanya menjadi sangat familiar karena bulan ini adalah saatnya hamba menghimpun amal, mencari berkah dan menepis kembali galau yang mengganggu dan menggantinya dengan rasa syukur dan tafakur kepadanya. Keheningan itu semakin membuatku buyar karena tiba-tiba saja radio pancar ulang (RPU/HT) berbunyi dan termonitorlah dua sahabat yang saling bersahutan berbicara namun sejurus kemudian berhenti dan lenyap seperti nasib sang nyamuk tadi.

Keheningan makin terasa, dinginnya AC membuat badan harus mengadakan penyusuain diri namun tak kutahu kemana tulisan tangan ini diarahkan oleh kekuatan khayal yang terus menggelora untuk ditulis. Kucoba berhenti di lembaran-lembaran berikut, tapi dorongan itu begitu kuat, ayo Penulis Gila….. tetaplah berkarya, teruslah menulis, walau kadang alergi untuk tulisannya akan tetapi amat kubutuhkan, tapi ku mohon jangan lagi buat air mata ini bercucuran.
Kuhela napas yang panjang, kucoba mencari perenungan yang punya makna, Ya Rabb…. Ku tatap kalender di depan ruang kerjaku, ternyata enam bulan mendatang saya harus Lengser Keprabon (istilah Pak Harto) dimasa menjabat. Ini sebuah sunnatullah, harus diikuti dan jangan pernah mencoba melawan ketentuan dari-Nya, namun di balik semua itu ada perasaan bahagia karena kami menginginkan menjadi akhir, dimana happy endingnya semua orang merasa bahagia, merasa menang  tentunyalah menjadi (win-win solution).
Dalam keheningan malam, naskah ini terus kugeluti, setiap kali menarik nafas, seakan ada dorongan dari dalam, ayo Penulis Gila, buat dan tumpahkan terus ide-Idemu, jangan pernah lagi membuat pembacanya tak sabar menanti, walau diujung tulisan ada kedahsyatan perasaan yang meluluhlantahkan semua pertahanan jiwa karena sang pembaca juga menggunakan nalar dan indera keenam. Wow tentu terasa aneh tapi itulah kenyataan yang kuhadapi. Kuhela nafasku namun ada sesak yang mengganjal, perlahan kutinggalkan komputer menuju ke ruang dapur untuk mengambil dan meneguk air putih, dengan harapan masih ada ide yang muncul dan dapat dilukiskan dalam catatan blog yang terbuang sayang terbaca ulang.
Setenguk air dari aqua botol yang berada diruang kerja langsung kusambar, betapa nikmatnya air putih mengisi seluruh persendianku yang selama ini mulai terasa kosong, air condition pun mulai dimatikan karena terlalu dingin, Tetapi kali ini serangan silih berganti, seekor nyamuk datang dan mengeluarkan suara nyaring di telingaku pertanda akan mengigit, badannya yang kecil tapi suaranya begitu nyaring terdengar, seperti suara seseorang yang nun jauh disana dan selalu mengingatkanku, …….. Hai Penulis Gila jangan lagi membuat naskah yang membuatku lunglai dan mendekap IPAD kesayanganku hingga akhirnya tersungkur di sudut kasur. Suara nyamuk Itu terus saja mengngiang sehingga konsentrasiku menjadi buyar dan dengan sangat terpaksa kutuntaskan tulisan ini sampai disini karena matapun sudah memberi sinyal untuk menuju keperaduan, “Selamat membaca dengan topik naskah tak bertepi.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>