Jalal Bin Pandi, lahir Sukabumi 9 Desember 1980 merantau ke Sulawesi Selatan tepatnya di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) yang beribukota Pangkajene, empat tahun silam.
Kisahnya berawal ketika tiba di Sulsel, berjualan roti di Pangkajene, profesi jualan roti itu ditinggalkan kemudian beralih mengikuti salah seorang pengusaha yang bergerak di bidang pencucian mobil. 
 Isterinya Lilis bersama dua orang anaknya masing-masing Rijal (3 tahun) dan Marni (2 tahun) menyusui ayahnya setelah dua tahun tak pernah pulang ke Sukabumi, dan yang lebih mengenaskan karena kiriman uang dari suami yang dititipkan pada teman seprofesinya  untuk isterinya di Sukabumi tidak sampai ke tujuan, sehingga isterinya nekad menyusul ke Kabupaten Sidenreng Rappang di Pangkajene.
Kehidupannya yang sederhana di rantau melahirkan anak ketiga yang diberi nama YANI berusia 17 hari, ingin pulang  membawa buah  hatinya ke neneknya di Sukabumi dengan   bermodal  uang   tunai  Rp 1 juta rupiah hasil keringat yang dikumpul sedikit demi sedikit.
Namun kenyataan berbicara lain, saat akan membeli tiket kapal laut menuju Surabaya, uang itu hilang di copet orang, akibatnya terlantar di pelabuhan Soekarno Hatta Makassar.
Pihak Polsek Sektor Wajo yang menemukan keluarga Jalal hidup dan menginap di masjid pelabuhan, segera menindak lanjuti dengan memberi surat pengantar Nomor B/22/VI/2012/Sek. Wajo tanggal 8 Juni 2012 yang di tanda tangani AIPTU MASKUR dan merujuknya ke Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Selatan.
Tim reaksi Cepat (TRC) Dinas Sosial segera menindak lanjuti korban dan mencarikan solusi berupa pembelian tiket pulang kapal laut serta uang saku selama dalam perjalanan.
Kepala Seksi KTK-PM(Korban Tindak Kekerasan dan Pekerja Migran) Dra.Hj.Andi Tenriola mengatakan, pihaknya sangat prihatin melihat bayi Ibu Lilis yang usianya baru 17 hari sehingga perlu pelayanan secara cepat, dengan jajarannya Tenriola bergerak cepat akhirnya keluarga Jalal diberangkatkan menuju Surabaya dengan kapal Pelni KM. TIDAR  melalui Pelabuhan Soekarno Hatta-Makassar, Selamat jalan keluarga Jalal dan Lilis menuju Sukabumi dan semoga pengalaman Makassar menjadi kenangan yang sulit dilupakan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>