Suatu senja di pertengahan bulan Mei, tepatnya Minggu 13 Mei 2012 saya pulang dari pelatihan TAGANA di Benteng Somba Opu Makassar, sesampainya di rumah saya mendapatkan apel hijau di sisi tempat tidur. Saking merangsangnya apel itu, sehingga saya meraihnya dan langsung mencuci kemudian menggigitnya dengan tenang. Ternyata apel hijau itu kecut dan menimbulkan banyak air liur agar bisa terkunyah dengan baik, tetapi karena terlalu pekat akhirnya ditelan dengan paksa akibatnya langsung menyerang amandel dan membengkak pada sektor kanan, sehingga wajah berubah seperti penderita sakit gigi alias dusal.
Saya menahan sakit dan mengelus pipi sebelah kanan, menyangka kalau kulit apel hijau itu terjepit diantara rahang gigi. Saat masuk kantor saya memperlihatkan kondisi yang saya alami kepada ananda yang juga bertugas di kantor, seperti merasa berdosa namun semua dibawa dengan canda, makanya jangan lagi bawa apel hijau tapi ganti dengan buah yang lembut, pintaku
Menjelang sore hari, saya diantar oleh adik ipar  menuju ke dokter THT (Telinga-Hidung-Tenggorokan), setelah antri beberapa lama, akhirnya oleh perawat memanggil saya menghadap sang dokter yang bernama Boy Arfandy di Jalan Emy Saelan Makassar. Saya menceriterakan situasi yang saya alami, kemudian dari lampu sorot sang dokter meneliti leher sebelah kanan saya sambil berkata, tidak ada kulit apel disini, tapi “ Amandel Yang Meradang “ dan menyerang sistem penyangga air liur.
Spontan ingin tertawa tapi saya tahan, begitu lihat telinga kiri dan kanan, rupanya juga banyak kotoran, dokter menyarangkan, mumpun disini sekalian saya bersihkan supaya pendengaran makin tajam. Setelah memasukkan benda ke lubang telinga, tangan dokter mengeluarkan kotoran yang sudah mulai membatu selanjutnya menyemprotkan dengan air hangat dan kondisi pendengaran makin terang, begitu juga dengan suara hidung yang sengau, dokter semprotkan cairan hangat, dan kini kembali bernafas lega, setelah sepekan mengidap influenza,  saya merasa berdosa, karena ternyata bukan kulit apel hijau melainkan amandel yang meradang kalau makan yang kecut, ya ternyata apel hijau telah menyingkap misteri.
Setelah meninggalkan dokter THT langsung menuju ke dokter mata di kompleks Pelita Marga Mas B 24 Jalan Gunung Latimojong Makassar, dengan maksud akan mengganti kacamata karena pandangan sudah mulai kabur, Oleh dokter Batari T.Umar,MD salah seorang ophthaimologist terbaik di Kota Makassar mengadvokasi agar di lakukan USG di rumah sakit. Hasil observasi menunjukkan kalau mata sebelah kanan mengalami gangguan katarak, untuk mengangkatnya dibutuhkan USG mata di RS. Jaury Jusuf Putera yang lebih dikenal dengan nama Rumah Sakit Akademis.
Usai pemeriksaan melalui peralatan canggih, akhirnya ditemukan bahwa syaraf mata masih berfungsi lengkap, hanya memang posisinya sudah mulai melorot kekanan akibat pemakaian kacamata yang lama, solusinya benih katarak itu harus diangkat dan waktunya hanya sekitar lima menit sudah tuntas, tutur dokter mata yang cantik itu.
Dari kedua insiden ini menunjukan kepada kita bahwa jangan menetapkan keputusan sendiri sebelum melalui ahlinya, karena ternyata kulit apel tidak tersangkut tetapi amandel yang meradang, pandangan tidak jelas karena ada benih katarak yang perlu diangkat, semua itu hasil keputusan sang ahli yang dibantu dengan peralatan canggih.
Semoga pengalaman ini menjadi sesuai yang indah untuk dikenang sekaligus tidak lagi mengulang keputusan dan tuduhan tanpa melalui penelitian yang mendalam  dan akurat……. Ya apel hijau, ya sang kekasih …… salamaki.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>