Daeng Lewa, sang anak yatim yang meninggalkan Jeneponto sejak berumur 10 tahun, kini kembali mencari sanak famili di Bumi Turatea Jeneponto, masa kecilnya yang kurang bahagia sejak ibunya meninggal dunia saat dirinya masih butuh asuhan,  ayahnya yang suka berpetualangan menitipkan pada seorang kerabatnya bernama Daeng Kanari (almarhumah). Bersama ibu angkatnya Daeng Lewa membantu menanam sayur-mayur di bantaran sungai dan hasilnya dijual ke Penjara Jeneponto (Lembaga Pemasyarakatan,red) untuk menu makan para tahanan.

Di usia 12 tahun mendapatkan informasi kalau ayahnya menjadi penjaga Sekolah Rakyat (SR) di Limbung Kabupaten Gowa, Daeng lewa kecil menyusul ayahnya, setelah menetap di Limbung bersama ayahnya, Daeng Lewa memasuki usia remaja, dengan semangat muda, dari Limbung, Lewa  memulai melakukan petualangan yang panjang dengan ikut menumpang di perahu phinisi mengembara di negeri orang dan terakhir terdampar di Pangkal Pinang dan hidup  seorang diri di Pulau Babuar Bangka Belitung.

Tim Tagana Aswin dan Yasir yang membawanya pulang ke kampung halaman hanya menemukan segelintir keluar atau kerabata yang terbilang jauh, Daeng Lewa nyaris tak di kenal, jejak dan riwayat keluarga yang mencintainya tidak diperoleh, terlebih kondisinya semakin menua, andai saja Pemda atau orang tak bersimpati lagi kepadanya, maka Daeng Lewa akan kembali ke Pulau Babuar hingga akhir hayatnya, berikut ini dokumentasi saat penerimaan di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar oleh Tim Tagana Sulsel bersama Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Selatan, hingga diantar ke Sekda Kabupaten Jeneponto.
Bagaimana kisah akhir perjalanan Daeng Lewa kita akan tunggu perkembangan berikutnya.




Setelah menginap beberapa hari di Bumi Turatea, akhirnya pada hari Sabtu, 28 April 2012 Pukul 12.00 Wita, Daeng Lewa dengan diantar oleh Tagana Yasir dan petuigas Sosial an. YAsmin kembali ke Pangkal Pinang, Daeng Lewa sudah memutuskan tekadnya untuk terus merantau di telan masa, sebagaimana janji seorang pelaut Makassar, ” Kualleangi Tallangga Na Toali ” arti harfiahnya, lebih baik karam di dasar laut daripada kembali tanpa hasil, semoga semangat Daeng Lewa tetap bersemayam di dada pemuda masa kini, salamaki to pada salama

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>