Langkah kakinya masih tegap, sorotan matanya masih tajam, hanya saja pendengarannya sedikit terganggu, Dialah DAENG LEWA, lelaki sejati yang selama 20 tahun bermukim seorang diri, di kawasan Pulau Bebuar Provinsi Bangka Belitung, yang ditempuh sekitar 1,5 jam dari dari daratan. Ikhwal keberadaannya di Pulau itu tidak dapat terungkap karena kondisi nafasnya yang terengah, apalagi perjalanan panjang yang dilaluinya dari Bangka Belitung ke Kota Anging Mammiri, diantara Kepala Seksi Bencana Alam pada Dinas Kesejahteraan Sosial Babel serta Yasir, salah seorang TRC. TAGANA yang menemukan Daeng Lewa hidup sebatang kara di Pulau Babuar.
Dinsos Sulsel dibawah koordinasi Koordinator TAGANA Sulsel, menurunkan dua unit RTU (Resque Tactical Unit) untuk menjemput Daeng Lewa bersama dua orang pengantarnya. Sejak menginjakkan kakinya di Makassar, wajah Daeng Lewa sumringah namun kenangannya akan Pulau Babuar sulit dilupakan, kepada Yasir ia bertanya, jadi siapa nanti yang akan menjaga pulau, ujarnya dengan nada lirih.

Tiba di Kantor Dinsos Sulsel disambut Kabid Banjamsos, selanjutnya dipertemukan dengan Kadis Sosial, Ir.H.Suwandi Mahendra,M.Si yang saat itu sedang bermain tenis meja. Dari penuturan Aswind di depan keluarga besar Dinas Sosial dan jajaran Tagana Sulsel mengatakan,Daeng Lewa ditemukan hidup sendiri di Pulau Bebuar, Provinsi Bangka Belitung, selama kurang lebih 20 tahun. Hal itu diceritakan Yasir, Koordinator Posko Tagana Karau, Bangka Belitung, yang menemukan orang tua berumur 90 tahun tersebut pada Juni 2011.

“Kebetulan saat itu kami sedang melakukan evakuasi korban kapal pecah di perairan sekitar. Lalu kami menemukan kakek itu yang mengalami kekurangan pangan,” ujarnya, Jumat (16/3).


Konon di Pulau tersebut pernah dihuni sekitar 40 keluarga. Tapi, pada 1992 keluarga tersebut mengungsi ke Kabupaten Bangka Tengah, sehingga aktifitas warga semakin menjauhi pulau, sementara Daeng Lewa memilih untuk bertahan di pulau itu seorang diri.

Daeng Lawa juga diajak untuk mengungsi tapi tidak mau dengan alasan tidak memiliki keluarga di kabupaten tersebut. Daeng lebih memilih tinggal sendiri di pulau yang memiliki luas 22 ribu meter persegi tersebut.

Hasil pantauan di lapangan, Daeng Lewa berasal dari Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. Ia adalah anak tunggal dari orang tua bernama Palimbang dan Hajrah. Ia mempunyai ibu angkat bernama Kenari yang memiliki dua anak yaitu Simbani dan Renda.

Pada umur 17 tahun, Daeng pergi merantau ke Bangka Belitung mengikuti kapal phinisi ke Jakarta. Ia kemudian menumpang kapal nelayan Bugis hingga menetap di pulau yang berjarak tempuh sekitar 60 menit dari Bangka Tengah itu.

Yasir dan teman-temannya berupaya agar Daeng Lewa bisa keluar dari Pulau Bebuar untuk pulang kampung atau ke tempat lain. “Tapi, beliau menolak karena sudah tua dan tidak memiliki keluarga yang dapat merawatnya,” ujar Yasir.

Permintaan kakek tua yang tidak menikah itu hanya satu yakni sebelum ajal menjelang ia ingin bertemu dengan salah satu keluarga dari Jeneponto.

Tagana bersama Jaringan Radio Antar Penduduk Indonesia (Rapi) tengah berusaha untuk meminta bantuan Pemerintah Kabupaten Jeneponto untuk bisa memenuhi keinginan terakhir Daeng tersebut.

 Kini Daeng Lewa, benar-benar berada di Bumi Turatea Jeneponto dijemput oleh tokoh masyarakat H.Padjarang Daeng Nyikko bersama TAGANA M.Ridwan yang mengetahui rumah yang disebutkan oleh Daeng Lewa, bagaimana kisah pertemuan dengan sanak keluarga di kampung, akan disampaikan pada episode mendatang.

Naskah terpadu
TRC Tagana & Pemantau Bencana Pedulibanjir 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>