Suasana Kota Kembang Bandung seakan tak pernah tidur, kesibukan perkantoran, perdagangan dan segala hiruk pikuk kehidupan berlangsung dengan penuh dinamika. Suasana malam dan aktifitas pedagang kaki lima tak kalah serunya, di sebuah kawasan sekitar Braga Bandung terdapat pedagang kaki lima tempat santap malam yang memiliki ke-khas-an.

Begitu pula dengan para penikmat kuliner dapat bersantap malam diatas mobilnya sambil mendengar musik dari pengamen jalanan yang pemainnya sudah berusia lanjut, tapi lantunan lagu-lagu lawas seperti, How can tell her about you, Love story maupun My way…. 

Semuanya meluncur pelan dari sang pengamen dengan KEBERSAHAJAAN YANG MULAI LANGKA, kecuali dari dua tokoh nasional seperti Dahlan Iskan dan Jokowi yang akan bertarung di Pilgub DKI Jakarta. Dua gitaris dan seorang pianis ditambah dengan dua orang anak muda yang bertugas menjaga peralatan musik sekaligus merangkap juru parkir. Para penikmat kuliner bebas memilih menu mulai dari sop buntut hingga sate kambing yang beraroma atau tempe oncom dengan menu lengkap, semuanya tersedia dengan sajian musik tanpa henti, lokasinya seputar Dago di Jalan Merdeka Bandung.

Adik dari Sumedang bersama isterinya mengantarku berkeliling Kota Bandung dan ini kesempatan saya memanfaatkan sela waktu dari kesibukan bahkan sempat mampir ke chiamphlas untuk melihat kehidupan perdagangan yang penuh kratifitas dan kalangan anak mudanya, semua potensi dikembangkan untuk mendapatkan lembaran sudirman, intinya ada sekumpulan anak muda yang kreatif, mungkin saja mereka termasuk dalam komponen karang taruna.  Kembali ke pemusik lapangan, saya menyaksikan bagaimana seorang seniman  memanfaatkan keterampilannya bernyanyi di pojok warung dalam suasana rinai yang gerimis di kota yang berjuluk Parahiyangan. Kembali ke hotel Aquila setelah berputar mengitari kota,tiba di kamar mendengar berita duka atas wafatnya mantan Pangkomkantib di era Soeharto, Bapak SUDOMO dan Hakim Agung Bisman Siregar.
Kedua tokoh nasional ini telah mengukir sejarah perjalanan republik ini. Tapi yang ingin saya katakana, bahwa apapun yang telah diukir semua akan menjadi referensi dalam menata pemerintahan ke depan, dimana suasana tertib sipil dan putusan hukum yang berpihak kepada si kecil telah dipertontonkan pada dua figur yang telah tiada.
Mengenang akan kepergian kedua tokoh ini, maka dapatlah kita menarik tamsil bahwa apa yang ada sekarang tidak ada yang abadi, semuanya hanyalah fatamorgana semata. Karena itu tidak usah kita menangisi apa yang harus ada tetapi mari kita mensyukuri nikmat yang kita peroleh. Oleh Direktur PSKBA (Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam) memberikan ulasan saat berbicara di depan peserta TOT, bahwa sesungguhnya dalam kehidupan ini kita hanya berada pada tiga hari yaitu, hari kemarin yang sudah lewat dan tak akan berulang lagi, hari esok yang masih samar dan penuh misteri maka sebaiknya nikmatilah hari ini dengan penuh kebahagiaan, karena hari ini adalah benar milik kita untuk dinikmati dan disyukuri…… maka bergembiralah dan jangan bersedih …..La Tahzan, ….SALAMAKI.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>