Suasana Kota VS Suasana Hati

Suasana Kota Makassar di penghujung bulan Maret, tepatnya Sabtu, 31 Maret 2012 agak sepi setelah sepekan lamanya hiruk pikuk dengan dengan demonstrasi Mahasiswa yang tidak  setuju dengan kenaikan harga BBM (bahan bakar minyak).


Kondisi perkantoran yang sepi  sejak Kamis petang membuat warga kota enggan keluar rumah, sebagian warga berdiam diri sembari menonton televisi dan menyaksikan anak-anak zaman menghiasi percaturan negeri diantara idealisme, korupsi dan  salah urus negara di tengah kepemimpinan yang banyak orang memberi merek dengan predikat pemimpin Lebay dan  Suka curhat.

Terlepas dari itu semua, Penulis tengah duduk di rumah kost dan menyaksikan tukang batu dan tukang cet berjuang untuk menyelesaikan tugasnya, betapa riang hatinya karena hari ini merupakan hari Sabtu, saat dimana mereka akan menerima jerih payahnya setelah enam hari berjuang membanting tulang demi anak isterinya.

Baginya goncang-gancing kenaikan BBM tidak menjadi fokus perhatiannya, sang pekerja hanya berfikir bagaimana tugas dan borongannya bisa selesai lebih cepat sehingga bisa mencari pekerjaan lain dengan upah dan tuan rumah yang tidak kikir.

Dibalik polesan kuas yang lembut, dengan hasil yang mempesona mengingatkan diriku akan seseorang yang jauh dari pandangan mataku namun dia begitu dekat dihati,  dia telah memberiku untuik inspirasi agar tidak kikir dalam kehidupan, memahami rakyat kecil yang telah berjuang untuk sesuap nasi.


Terima kasih wahai sang pekerja, engkau telah memberiku kearifan yang begitu indah dalam suasana kota yang lengang dan nuansa suana hati yang membahagiakan, semoga saja rumah kost ini akan menjadi tambatan penghasilan yang merupakan sumur abadi di kala pensiun dan kearifan yang hakiki di penghujung usia, hingga nantinya akan diteruskan oleh anak-anak zaman beserta problematikanya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *