Mendung hitam yang menakutkan dan hembusan angin yang  bertiup kencang, berputar laksana gasing yang lepas dari untain tali pemutarnya, seonggok awan menjuntai bagai terpedo telah meluluhlantahkan pemukiman di kawasan Kelurahan Wette-E Kecamatan Panca Lautang Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) di Sulawesi Selatan, menewaskan empat orang meninggal dunia, dan kerugian harta benda ditaksir 5,9 juta rupiah.
Peristiwa naas yang datang tiba-tiba pada hari Jumat, 24 Februari 2012 di saat kaum muslimin akan menunaikan sholat magrib. Suasana hiruk-pikuk, anak-anak terlepas dari genggaman sang ibu, suami isteri masing-masing berlarian mencari selamat, dunia seakan memasuki era akhir zaman, listrik padam dan suara gemeretak dari rumah yang roboh seakan tersapu tsunami.
Tak berselang berapa lama, semua jadi porak poranda dan tak satupun rumah yang berdiri kokoh, kini jadi tumpukan balok, seng tua dan pakaian bekas yang berserakan bahkan ada jenis perahu (lepa-lepa) yang biasa di gunakan di Danau sekitar pemukiman terdampar di tengah rongsokan rumah.
Di seberang perkampungan sebuah pohon besar yang rimbun, dibawahnya terdapat bangunan semi permanen ikut terbongkar dan dahannya seperti dipangkas, di tempat ini sebagian warga Sidrap bahkan luar kabupaten menjadikan sebagai tempat yang dikeramatkan.
Konon tempat ini menjadi salah satu tempat untuk acara mempersembakan sesajen karena cita-cita atau hajatan mereka berhasil, bagai warga penganut paham Tolotang yang di kartu tanda penduduknya tercatat menganut Agama Hindu, tempat ini merupakan lokasi yang disakralkan.
Terlepas dari kondisi bencana, konon tempat inilah yang pertama diterpa angin puting beliung, padahal menurut ceritera yang berkembang di tengah masyarakat, sesungguhnya angin itu sudah melewati pohon yang rindang tetapi tiba-tiba berputar kembali, dari dua gumpalan angin ini bergabung menjadi satu, sehingga tingkat kedahsyatannya amat mengerikan.
Dampaknya 64 rumah rata dengan tanah, dan empat orang menemui ajalnya sementara 18 lainnya dilarikan ke Puskesmas terdekat dan RS. Nene  Mallomo Kabupaten Sidrap.
Bencana angin puting beliung telah meluluhlantahkan kehidupan masyarakat terutama di kawasan Wette-E Kecamatan Panca Lautang,  kehidupan warganya sebagai petani tadah hujan merangkap profesi sebagai nelayan tangkap di Danau Sidenreng Kabupaten Sidrap.
Tapi ada yang unik di daerah ini, warga di kawasan ini sangat gembira bila banjir datang, karena itu pertanda rejeki akan melimpah, ikan-ikan yang ada di danau datang dan mengisi kolong rumah mereka, selanjutnya warga setempat memasang jaring pengaman termasuk pukat sehingga ikan tersebut terperangkat dan tinggal dalam kolong rumah, berikutnya panen raya karena jaring yang sudah disiapkan, tinggal diangkat ke atas rumah,  pendek kata banjir membawa nikmat.
Pertimbangan inilah yang membuat masyarakat enggan untuk berpindah lokasi ke tempat baru yang ditawarkan Pemerintah Daerah Sidrap untuk relokasi, karena musibah khususnya banjir bagi warga Wette-E adalah pertanda rejeki bertambah, biasanya usai banjir mereka bisa membeli motor baru hasil penjualan ikan dari dana, namun kali ini yang datang justeru anging putting beliung.
Bagaimana kelanjutan kehidupan warga yang tertimpa bencana puting beliung di Kabupaten Sidrap pascabencana ??? biarlah sejarah yang akan mencatatnya, yang pasti Wette-E lama kini tinggal kenangan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>