Deburan angin berputar laksana meteor

Jumat dua puluh empat februari dua ribu dua belas – Disaat kaum muslimin dan muslimat
Menunaikan sholat magrib berjamaah
Jerit tangis dan kepanikan warga
Lampu padam  dan semua yang ada beterbatangan
Allahu akbar, semua hilang dalam sekejap
Allahu akbar, wahai sang angin yang perkasa

Wette-E di Pancalautang Sidrap

Tak ada lagi yang tersisa di kekinian
Semua sirna dalam sekejap
Setelah bertahun-tahun lamanya
Kami menghimpun dan berteduh di pondok ini
Allahu Akbar…. Kini kuharus bangkit
Bersama TNI-Ku bersama  – Tagan-Ku
Kuraih kembali puing yang tersisa
Kukais kembali yang terserak

Tetesan air mata membuncah menghiasi pipi

Masih adakah harap di esok atau sudah sampai disini
Tidaaak ….. kami harus bangkit
Karena esok masih pasti masih ada Mentari
Apakah ini kutukan dari-MU ya…Allah
Atau cobaan bagi kami yang ada disini
Padahal seminggu lalu kebakaran juga terjadi disini 
Banjir juga telah engkau kirimkan



Masih adakah MURKA-MU kepada kami di Wettee-E

Atau kami yang salah jalan dan menjauh dari kebesaran-Mu
Allahu Akbar…. izinkan hamba sujud dalam genggaman-MU
Karena kutahu engkau Maha Pemberi Maaf
Oh Sidrapku- Sidrap-Mu kini meratap  pilu  – Tapi tekadku sudah bulat kembali bangkit – Karena motto yang sudah kutancapkan – Percayalah pada harapan bukan pada ketakutan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>