Persahabatan di masa kuliah sangat sulit untuk di lupakan begitu saja, kenangan itu akan terus membekas, apalagi saat itu kami semua masih dalam kondisi terbatas dan prihatin, mengenang masa kuliah ketika  duduk di sebuah bangku panjang di kawasan Unhas menikmati indomie telur (intel). 

Sedang asyik bercengkarama salah seorang teman pulang duluan, sialnya dia bawa kunci motor di sakunya, lupa menyerahkan kepadaku, akhirnya diutuslah Sdr. Fadly yang kini sudah jadi dosen di Semarang, sembari menanti pesan lagi kopi susu dan pisang goreng.
Pertemuan kali ini, setelah 12 tahun berlalu, kami kembali reuni di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) di rumah Sdr. Hadi, saat ini sudah menjadi Pegawai Negeri Sipil yang bertugas di Bappeda dan telah memiliki tiga orang anak. Sementara Tasrifin Tahara dari Buton   sudah berpredikat Doktor di bidang antropologi, sedang rekanita Dade Prat Untarti masih melanjutkan S III di Universitas Gadjah Mada Di Yogakarta.
Waktu bergulir dan masa berlalu, kami terus menapaki hari-hari dalam blantika kehidupan dengan berbagai rona dan ragamnya, kami di pisahkan waktu dan profesi tapi kami tetap satu dalam ikaatan sanubari yang tak lekang oleh panas dan ak laut karena hujan.
Suguhan telur dan bubur hitam yang padu dengan aroma khas Sidrap membangkitkan gairah untuk menulis dan mengenang kembali akan rekan-rekan kami dahulu seperti Rahmatullah yang kini sudah jadi Dosen Bidang Pemerintahan di Universitas Hasanuddin, Arfin sebagai anggota KPU di Penajam Kalimantan Timur, Ridwan Tuni yang akrab disapa Paitua kini menjabat Dekan Fakultas Dakwah IAIN Ambon yang hingga saat ini belum mau menggunakan BB (blackberry).
Adapula sahabat kami bernama Bulqis  bertugas di Kota Palopo setelah berhasil di gaet menjadi isteri oleh temannya yang juga memilih jurusan antropologi.  Hingga kini, kami belum mengetahui alamat pastinya akan tetapi komunikasi dengan teman-teman selalu ada kontak walaupun sifatnya insidentil.
Sebelas orang alumnus jurusan Antropologi tahun 2002 yang dibina langsung almarhum H.Abu Hamid, beliau  sangat kesohor dengan hasil karya tulisnya dalam bentuk  buku Syekh Yusuf Tuanta Salamak.
Para alumnus itu, kini semuanya sudah hidup mapan sesuai ukuran kami masing- masing, sampai jumpa dalam pertemuan mendatang di gelanggang kehidupan baru dalam nuansa yang berbeda…. salamaki.





Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>