Di rembang petang 8 Februari 2012 seorang rekan tergopoh datang melapor, Pak……… Saya baru saja selesai mengikuti pelatihan yang dilaksanakan di salah satu hotel di Makassar. Oh….…ya bagus, tapi siapa yang mengusulmu, spontan tergagap … saya hanya mengikuti perintah Komandan, tuturnya

Seorang staf lainnya bernama Ahmad segera bertindak, menelusuri arah pemanggilan dan ternyata menemukan fakta, surat tugas yang digunakan  ternyata hanya menggunakan tanda tangan yang di sken, stempel yang selama ini bebas digunakan sekarang diamankan oleh Ahmad.
Sesungguhnya bukan kepesertaannya yang disesalkan akan tetapi sikap pemalsuan dan tanpa laporan yang membuat hati menggerutu, ini baru hal yang kecil, bagaimana kalau sudah menyangkut skala besar dengan kebijakan yang tingkatannya membutuhkan tanggungjawab tinggi, bisa saja menjadi bumerang dalam pengembangan organisasi ke depan.
Belajar dari keteledoran dan rasa santai serta kebebasan yang diperoleh selama ini, hendaknya kembali mengaca diri, bahwa ada etika yang harus di perhatikan dalam suatu tatanan yang baku di organisasi, salah satunya adalah komunikasi. Tindakan brutal dan membabi buta untuk kepentingan pribadi sementara kepentingan orang lain harus dikorbankan, tentunya ini sesuatu yang kurang terpuji.
Terlepas dari salah dan benar, ada satu hal yang perlu menjadikan takaran dalam kehidupan berorganisasi yaitu “Sipakatau” saling meng”orang”kan bukan sebaliknya Sipakasiri atau saling mempermalukan. Bagaimanapun tindakan yang dilakukan untuk dan atas nama organisasi sementara dilakukan tanpa melapor terlebih orang yang bertanda tangan tak mengetahuinya, ini sesuatu menurut kami telah melanggar norma dan etika organisasi sekaligus melecehkan kredibilitas sang pemangku jabatan.
Mungkin karena perasaan mereka dianggap biasa dan santai saja, sehingga segala sesuatunya menjadi “Gampangan” hal ini tentu perlu menjadi kajian dan analisis untuk pemberian kewenangan dan tanggungjawab organisasi karena dapat berakibat  fatal dan pada gilirannya menjadi musuh dalam selimut.
Terlalu nisbi bilamana dalam keseharian yang sudah biasa dikomunikasikan dalam suatu gerakan, tiba-tiba saja dilakukan dengan seenaknya tanpa mau dan mengerti perasaan orang lain, tentu hal ini bisa menjadi preseden buruk untuk pengembangan organisasi ke depan.
Disadari bahwa di alam kebebesan ini semua bisa dilakukan dengan cara-cara melanggar norma, akan tetapi hasil akhir dari pencapaian itu berujung pada retaknya simbol silaturahmi dan timbulnya antipasti dalam  setiap pergerakan. Intinya mari Kita coba menata dan kembali mempersiapkan diri tanpa harus menyibak duka dan perasaan yang kurang senang karena pada akhirnya kita akan berada pada pilihan dan keberfungsian perangkat laksana songkok dan sepatu, semahal-mahalnya sepatu mesti ditaruh dikaki dan semurah-murahnya songkok mesti di kepala. Dari tamsil yang ada dias ini dapat menjadi patokan dan bahan rujukan untuk tahu diri dan bukannya “Tidak Mau Tahu” karena apa akhirnya akan mendatangkan antipati dan menghilangkan rasa simpatik. 
Demikian ulasan “sepatu dan songkok “ semoga menjadi bahan renungan bersama dalam menapaki hari-hari mendatang dalam romantisme pertolongan kepada sesama manusia di bawah panji Taruna Siaga Indonesia (TAGANA). Mengunci pembahasan ini, Penulis ingin merilis ulang  pantun Menteri Komunikasi dan infokom yang mengatakan “ Anjelia Sondakh Sudah Memelas, Cukup Sekian & Terima Kasih

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>