Senja medio desember dua ribu sebelAs, rombongan tim penguatan kearifan lokal dari Kementerian Sosial R.I. tiba di Bumi Panrita Lopi Bulukumba.

Mereka terdiri dari, Drs.Perkorus Manu, M.Si, Drs.Benny Habsoro, Marleni,S.E,  Dwi Putri Pujaningsiharani, Yusnidar, A.Md serta tim dokumentasi kegiatan terdiri, Dra.Johana Carolina Purimahua, M.Si, Yanti Hastuti, A.Md dan Narasumber pusat DR. La Ode Taufik, DR. Andi Patunruang dan DR. Bambang Nugroho dari Badiklit Kemsos R.I.

Kehadirannya di Tanjung Bira, sebagai realisasi dari program Penguatan Kearifan Lokal kerjasama Kemensos, Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Selatan dan Pemerintah Kabupaten Bulukumba yang ditempatkan  di Tanjung Bira, sebuah kawasan wisata yang memberikan kontribusi besar bagi Pemerintah Daerah Kabupaten  Bulukumba.
Pagi itu tercatat dalam penanggalan 17 Desember 2011, sebuah perhelatan akbar di ramu dalam bentuk penampilan budaya lokal yang sarat dengan kearifan lokal dan menjadi milik masyarakat yang kini mulai tergerus arus globalisasi.
Darsad Pabontingi salah seorang konduktur teater Kampung yang membacakan puisi tentang kearifan lokal di Bumi Panrita Lopi, dengan lirik mengugah hasrat keingintahuan, memaparkan hakekat penampilan dari beragam bentuk kesenian.
Diawali dengan pesan-pesan sang leluhur tentang kepandaian membuat perahu (Panrita Lopi), mulai dari jenis lepa-lepa, jukung, hingga phinisi yang mampu menjangkau Pulau Madagaskar.
Selain itu, penampilan Gambus dari Bonto Bahari, Pabbitte Passapu dari Kajang, bakar linggis hingga membara, dan untuk menguji kejujuran seseorang dipersilahkan memegang batang besi yang membara, bilamana tidak berani berarti itulah pelaku kejahatan, sebuah pengadilan yang sederhana namun amat efektif untuk nmenetapkan terdakwa tanpa pandang bulu, sebuah nilai kejujuran yang kini mulai langkah.

Selain itu bunyi-bunyian seruling bambu sebagai lirik duka karena sakit atau meninggal dunia, memberi pemahama tentang ketergantungan kepada dewata yang agung, sebuah harmoni kehidupan di Tana Kajang tanpa pernah tersentuh dengan perubahan dari luar bahkan untuk mencapai kawasan Kajang harus menggunakan pakaian serba hitam-hitam.
Ini sebuah aset pariwisata ditinjau dari sudut kepariwisataan sementara dari sudut pandang pekerjaan sosial, hal ini merupakan modal sosial, dimana warganya masih terus patuh pada aturan norma, nilai yang terus dipelihara hingga dewasa ini, melalui pelestarian nilai-nilai lokal seperti ini maka konflik sosial akan lebih muda tertangani melalui kearifan loal (genius kingdom).
SENANDUNG SANG BUPATI
Bupati Bulukumba Zainuddin Hasan menyambut baik kegiatan penguatan kearifan lokal yang dipusatkan didaerahnya.

Apresiasi yang tinggi juga ditunjukan dengan memusatkan kegiatan di halaman hotel mewahnya di Sapulohe Tanjung Bira yang berhadapan langsung dengan laut lepas, konon hotel ini telah dibeli Bupati dan selanjutnya ada direnovasi menjadi sebuah hotel berbintang di kawasan Tanjung Bira Bulukumba.

Zainuddin Hasan yang pernah menjabat Bupati di Gorontalo menuturkan tentang potensi daerahnya, mengembangkan pola pemerintahan dengan kerja cerdas, dimana para pejabatnya tidak lagi memakai undangan resmi setiap rapat akan tetapi melalui pesan pendek (SMS), ini kan kita dapat menghemat biaya administrasi, mari manfaatkan tehnologi, tuturnya.
Apa yang kita miliki sekarang harus terus dikembangkan, hutan yang rindang, laut yang kaya biota langka, karena itu jangan di bom, pelihara, kembangkan dan lestarikan termasuk budaya lokal.
Semua ini adalah aset, syaratnya hanya tiga, kerja cerdas, jaga keharmonisan dan kebersamaan serta kondisi keamanan harus Kondusif.
Dituturkan Bupati, dulu ketika meninggalkan Bulukumba, hanya berbekal tiga buah baju, warna putih, kuning dan biru, selama 40 hari bertarung melawan ombak di laut lepas, hingga nasib yang mengantarnya tiba di Gorontalo.
Dikatakan awal kariernya sebagai Satpam dengan pangkat I/b,  kemudian karena nasib berpihak kepadanya akhirnya berubah menjadi pengusaha dan meninggalkan birokrat, karena itu kalau mau kaya jangan jadi pegawai negeri.
Kerja kerasanya di Gorontalo, beliau menjadi pengusaha yang sukses, mempunyai dua isteri dan berhasil menjadi Bupati disana.
Didorong untuk memajukan daerah kelahirannya, beliau kembali bertarung dan berhasil menyingkirkan incumbent A.Sappewali, selanjutnya menata kembali sistem pemerintahannya dengan pola-pola kerja cerdas.
Jangan pernah datang kepadaku minta jabatan tapi tunjukan kinerjamu, seperti dengan Kadis Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi kabupaten Bulukumba yang mampu membawa program ke Bulukumba, walaupun dimasa Pilkada dulu, beliau tidak memilih saya karena loyalitas kepada atasannya.
Tapi itu yang benar, karena anak buah harus loyal kepada  atasan, makanya diperpanjang masa dinasnya, apalagi Kadis Sosnakertrans ini, Saudara Jalaluddin adalah sepupu saya, ujarnya yang mengundang tepuk tangan hadirin.
Puncak acara ditandai dengan nyanyi bareng antara Bupati Bulukumba Zainuddin Hasan dengan Johana Carolina Purimahua dari Kementerian Sosial R.I.
Sebelumnya Bupati yang pengusaha ini, sempat bernyanyi solo dalam judul lagu, “Anak Kukang“ yang mengenang kembali akan perjalanan hidupnya yang menderita.
Kini beliau dipercaya rakyat untuk menjadi nakhoda baru untuk memimpin Butta Panrita Lopi lima tahun ke depan, mengayomi warganya yang masih perlu proses pencerdasan seraya melestarikan nilai-nilai budaya lokal sebagai salah satu aset nasional yang perlu sentuhan dari tangan dingin seorang Zainuddin Hasan, yang dilandasi semangat dari pesan “Don’t Stop Komandan “

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>