Jambore Nasional  Taruna Siaga Bencana (TAGANA) merupakan ajang sekaligus mengasah keterampilan dan ketangkasan dalam hal penanganan bencana dengan segala spesifikasi yang dimiliki Tagana sebagai relawan yang telah mewakafkan dirinya untuk kepentingan pertolongan, penyelamatan dan advokasi sosial.

Jambore Tagana Tahun 2011 sedikit mengalami modifikasi, kalau dimasa lalu saat di pimpin oleh Direktur, Drs. Andi Hanindito, M.Si yang dikenal sebagai Panglima Tagana Indonesia sering berlokasi  di bumi perkemahan Cibubur, kali ini dipusatkan di Kota Kembang Bandung, tepatnya di Bumi Perkemahan Marsudi, Kiarapayung Jatinangor-Sumedang Jawa Barat, tanggal 6 s/d 8 Desember 2011.

Selain itu, pejabat direktur juga berganti, kini Direktur Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial (PSKBS) dinakhodai Drs. Moch. Helmy dan salah satu ikonnya memasukkan  nuansa kearifan lokal, dimana setiap kontingen menampilkan kesenian, busana dan tradisi daerah masing-masing. Tagana Sulsel dibawah koordinasi Kepala Dinas Sosial, Ir. Suwandi,M.Si memutuskan untuk menampilkan sendratari Gandrang Bulo ” sebagai salah satu kesenian daerah yang ditampilkan disaat selesai panen atau pada pesta adat yang dilaksanakan di provinsi yang dipimpin Gubernur Syahrul Yasin Limpo.
Tiga orang official yang mendampingi tim masing-masing, Ir.Suwandi, M.Si, Djassariah, SH, Dra.Hj.Makhriani dan 27 peserta inti yang akan mengikuti lomba seperti Dapur Umum Lapangan (Dumlap), Shelter atau tenda pengungsian, Pertolongan Pertama pada Kedaruratan dan Navigasi, Vertical Horizontal Resque, Peraturan Baris Berbaris dan Peragaan busana daerah.

Kadis Sosial, Ir. Suwandi saat melepas rombongan di Aula Dinas Sosial Sulsel mengatakan, Anda adalah orang-orang terbaik dan orang pilihan yang mewakili Sulsel di gelanggang nasional, karena itu tidak ada pilihan lain, kecuali bertarung dan raih kemenangan. Untuk itu semua, tetap disiplin dan senantiasa berdoa kepada Allah SWT, karena doa merupakan kekuatan inti dalam meraih pertandingan.

Bertemu d Gubernur di Bandara Hasanuddin

Dengan menumpang pesawat Lion  nomor penerbanga JT 0871 menuju Bandara Cengkaeng di Jakarta pukul 07.35 Wita waktu di Makassar, sementara antri untuk melapor di pintu keberangkatan tiba-tiba Gubernur H.Syahrul Yasin Limpo turun dari mobil dinasnya karena akan ke Jakarta dengan menumpang Garuda,

Kesempatan  tersebut dimanfaatkan anak-anak Tagana untuk berfoto bersama, sambil berteriak, Dont Stop Komandan, mendengar teriakan tersebut, Bapak Gubernurpun menyambut hangat seraya mengucapkan terima kasih dan hati-hati di jalan.

Tepat pukul 09.05 WIB, Pesawat  Lion yang menerbangkan Tagana dalam kondisi cuaca berawan, berhasil mendarat di bandara Internasional Soekarno Hatta di Jakarta. Selanjutnya para anggota tim mengemas barang bagasi masing-masing lalu naik ke bus pariwisata dengan nomor polisi AB. 2755 CA menuju Kiarapayung- Jatinangor, Sumedang dengan jarak tempuh sekitar dua jam perjalanan.

Sementara itu terdapat  sebuah mobil kiriman dari Pak Syafril, salah seorang pengusaha yang sering berkiprah ke Kota Daeng, Sopir yang  mengangkut kami, bernama Edward melarikan kendaraannya di jalan tol Padalarang menuju Kota Kembang Bandung dan di pintu masuk kota nampak tulisan, Wilujeng Sumping di Tatar Pasundan yang kurang lebih bermakna, Selamat datang di Kota Parahiyangan.

Dalam perjalanan panjang yang melelahkan, di mulai saat di ujung timur Indonesia, Wasior – Rapat Evaluasi di Hotel Sheraton Media hingga menuju kelokasi perkemahan, terkenang akan seseorang yang selama ini telah memberi kontribusi pemikiran, energi dan semangat yang tiada pernah pupus, benarlah apa yang sering dikatakan orang, seseorang yang sukses dan berjiwa besar karena ada tuas pendorong dari seseorang yang tiada nampak dipermukaan tapi dia hadir dalam tugas yang penuh tantangan.

SYAMSUDDIN DAENG NGEMBA PERTAMA KALI NAIK PESAWAT

Diantara anggota tim Tagana Sulsel, ada empat orang yang merupakan peserta yang pertama kali naik pesawat terbang, salah satu diantaranya Syamsuddin Daeng Ngemba. Di kalangan  teman-temannya, Syamsuddin lebih sering disapa “Emba” berperawakan tinggi dan memiliki kumis tebal. Selain pandai bertukang-baik itu tukang batu, tukang kayu maupun masalah kelistrikan dikuasai dengan baik, tapi satu kelemahannya yang paling menonjol, jangan ajak menolong di air karena tidak tahu menyelam.

Teman-temannya sering mengerjai Emba dan menakut-nakuti, kalau di Jambore nanti dia berada di tim resque  air, tapi Emba sudah bertekad, dimanapun ditempatkan yang penting bisa ke Bandung, ujar Emba sambil senyum di kulum.

Didalam pesawat Lion, mata Emba tak pernah terpejam, Emba di duduk di nomor kursi 27  sesekali mencuri pandang melihat pramugari yang lalu lalang di dekatnya, ventilasi pesawat ditatap dengan saksama dan mengingatkan dirinya saat membuat plafon  rumah kediaman Tagana satu, alhamdulillah akhirnya saya juga bisa lihat Jakarta, dengan biaya negara, terima kasih Ya Allah atas segala rakhmat-Mu, tutur Emba pada penulis

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>