Jago Merah Mengamuk Di Sorowako

Aksi si jago merah kembali meluluhlantahkan pemukiman padat penduduk di pinggiran Danau Matano dalam kawasan Dusun Otuna Desa Sorowako Kecamatan Nuha Kabupaten Luwu Timur.


Peristiwa yang menghebohkan penduduk pinggiran Danau Matano itu, terjadi Senin, 17 November 2011 sekitar Pukul 02.00 dinihari mengakibatkan 68 rumah hangus, 181 kepala keluarga (KK) dan 982 jiwa harus kehilangan tempat tinggal.

Salah seorang korban yang terbakar sekujur tubuhnya bernama Auliana Binti Nais Dolla, kelas III SMP Sorowako segera dilarikan ke rumah sakit PT. INCO (Internasional Nickel Indonesia) Tbk dan informasi terakhir yang bersangkutan diterbangkan ke Jakarta atas biaya perusahaan, jumlah kerugian yang di derita dari musibah ini ditaksir  Rp 5,6 milyar.

Peristiwa naas ini  berawal saat  penghuni rumah dan para tetangga terlelap dalam mimpi, tiba-tiba terdengar kepanikan luar biasa, malam itu semua mata mengarah ke rumah Nais Dolla, salah seorang karyawan PT.INCO Sorowako yang diduga  api berasal dari rumah tersebut dan kini sudah ditaruh garis polisi.

Dalam waktu sekejap, si jago merah melahap semua rumah panggung yang ada di pinggiran Danau Matano, Danau ini dikenal memiliki kedalaman 594 meter  dengan luas areal 130 kilometer persegi,  jenis flora dan fauna yang masih terjaga baik.

Matano dalam bahasa lokal artinya (sumbernya) air, disini terdapat gugusan pulau yang sangat indah, Gua bawah air, Kali dingin, Pantai Kupu-kupu dan Pantai Salonsa dan penulis kunjungi adalah Pantai Ide yang memiliki dermaga yang menjorok ke laut dan merupakan tempat indah yang sering digunakan kalangan muda-mudi untuk bersantai termasuk  warga kota Nikel Sorowako.


Tim Fire Resque yang tiba di lokasi segera memberikan pertolongan, tetapi sedikit mengalami kendala akibat kerusakan pada mesin penyemprot, sejumlah warga yang mendengar teriakan kebakaran langsung meloncat ke Danau Matano diantaranya untuk menyelamatkan diri, diantaranya Rani, Henry, Kemat, Febry, Jeki dan Zul, ungkap Jamal yang bertindak selaku juru bahasa di lokasi pengungsian.

Beberapa sumber di kawasan itu menyebutkan,   api berasal dari rumah Nais Dolla, disebabkan  kompor meledak, ada pula yang menyebutkan karena arus pendek, belakangan ada pula yang menyebutkan,  kalau kawasan itu sudah lama diperintahkan PT. INCO Tbk agar tepian  Danau Matano ini  tidak dijadikan kawasan pemukiman karena memberi kesan kumuh, apalagi daerah ini akan dijadikan kawasan wisata. Oleh sebab itu, pemerintah daerah membangun rumah susun di Sumasan III yang letaknya kurang lebih 3 kilometer dari lokasi sekarang.

Ironisnya, warga yang dihimbau untuk berpindah belum juga beranjak ke lokasi baru yang dibangun dengan anggaran pemerintah daerah tahun anggaran 2007-2008 hingga terjadi peristiwa bencana alam gempa Malili mengakibatkan bangunan rumah susun mengalami keretakan. Selanjutnya pemda setempat menunjuk rumah susun ini sebagai alternatif untuk penampungan sementara (Huntara), akan tetapi warga merasa was-was karena bangunannya sudah retak, ungkap Ny.Sumianto di lokasi pengungsian.


TRC Sulsel Kunjungi Lokasi Kebakaran

Gubernur Sulawesi Selatan,  DR. H. Syahrul Yasin Limpo, S.H, M.Si, M.H. yang  mendapatkan  laporan  dari  Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Luwu Timur, Ir. Sulaeha, segera menghubungi Kadis Sosial Provinsi Sulawesi Selatan, Ir.H.Suwandi,M.Si dan mempertanyakan langkah-langkah penanganan.


Kadis Sosial yang mendapat informasi segera menurunkan Tim Reaksi Cepat (TRC)  dipimpin Kepala Bidang Bantuan & Jaminan Sosial bersama tiga orang Tagana handal mengunjungi lokasi kebakaran yang terletak kurang lebih 700 kilometer dari ibukota provinsi.

Tim TRC membawa serta bantuan darurat berupa selimut, sarung, baju kaos, tenda biru, ikan kaleng, minyak goreng dan menyerahkan langsung kepada kepala BPBD setempat diterima Ir. Sulaeha selaku Komandan Posko Lapangan dibantu Tagana Kabupaten Luwu yang di koordinasi Sdr. Joni.

Dari Posko kebakaran diperoleh informasi bahwa penanganan korban kebakaran sudah tertangani dengan baik berkat kerjasama dan dukungan PT. INCO, adapun  langkah-langkah tanggap darurat diantaranya, mengungsikan korban ke tempat penampungan yaitu SD Nikel Sorowako, ada juga ke Aula HIPSO (Himpunan Pengusaha Sorowako) sementara itu unsur Tagana mendirikan Dapur Umum Lapangan (Dumlap) demikian halnya  dengan Dumlap TNI dari Kodim 1406-16 Luwu Timur, kegiatan pendataan dan  psykhososial oleh adik-adik Tagana.

Dukungan masyarakat terus mengalir, anak-anak Pramuka dibawah koordinasi Sdr. Muslimin berinisiatif menghimpun sumbangan masyarakat Sorowako melalu derma sukarela dengan memasang kotak sumbangan, serta dukungan dari pihak DPRD Luwu Timur khususnya dari Komisi yang dipimpin Andi Hikmat dari Fraksi Golongan Karya Kabupaten Luwu Timur.

Kepedihan Syahrir & Sumianto di Matano

Raut wajahnya yang nampak terlihat lelah, Syahrir berusaha tersenyum menyambut kami, namun di sudut matanya tertangkap nuansa kepasrahan, apa boleh buat, jerih payah yang dikumpul sejak tahun 1982 saat memulai petualangannya untuk memperbaiki kehidupan, Lelaki Makassar yang satu ini, memulai kariernya ketika masih menjadi buruh di PT. Bethel Indonesia,  merambah beberapa pengeboran minyak mulai dari Sulawesi Selatan hingga Kalimantan Timur di Samarinda.


Terakhir Syahrir yang berasal dari Kota Makassar terpikat dengan seorang wanita dari Duri Kabupaten Enrekang, hingga dikarunia tiga orang anak dan membangun rumahnya di tepi Danau Matano setelah menyisihkan pendapatannya  dari lelehan keringatnya dan usaha kecil yang dikelola keluarga. 


Dikalangan etnis Makassar yang berada di Sorowako, Syahrir sangat familiar, karena rumahnya sering menjadi menjadi markas pertama bilamana ada perantau atau sanak pamilihnya yang mau ke Sorowako untuk mencari lapangan kerja, beliau sedang merintis membangun sebuah komunitas dengan nama Kerukunan Keluarga “ABBULO SIBATANG“ untuk membantu memberi informasi, akses dan perlindungan bagi perantau yang dari luar kota Sorowako.

Demikian halnya Sumianto dari Banyuwangi yang datang ke Luwu (masa itu belum ada Otoda) sekarang daerah ini masuk dalam wilayah administrasi pemekaran Kabupaten Luwu Timur, Sumianto di damping isteri dan dua orang anaknya harus membangun kembali dari titik nol setelah semua harta bendanya dilalap si jago merah.


Pernyataan Sumianto ini, diamini oleh rekan-rekannya yang senasib dengannya, ketika memperkenalkan diri  bahwa kami dari provinsi yang diutus oleh Gubernur, beliaupun manggut-manggut dan manyampaikan terima kasih atas perhatiannya. Sumianto juga menimpali kalau dalam pemilihan lalu, da memilih SYL, katanya sambil tertawa kecil, tolong sampaikan salam saya ke Pak Gubernur ya Mas, katanya sebelum saya meninggalkan mereka di SD Nikel Sorowako.

Pihak Pemerintah Daerah Luwu Timur  dan PT. INCO dan unsur terkait menampung selama masa tanggap darurat  menyediakan makan-minum gratis, sesudah itu mereka akan diberikan hunian sementara (Huntara) di rumah susun.


Menurut Bapak Hikmat dari DPRD, pihaknya akan memfasilitasi agar di lokasi itu segera dipasangi listrik oleh pihak PLN, anggarannya segera kami hitung. Rumah susun itu akan kami jadikan hunian sementara mengingat kalau di sekolah terus akan terganggu proses belajar anak-anak.

Langkah pemulihan terus dilakukan dan pihak PT.INCO akan memberikan kontribusi, mengingat mereka yang bermukim di eks kebakaran ini rata-rata perantau dan pekerjaan mereka adalah buruh kasar, pemulung dan bahkan ada masih menumpang di rumah keluarga sembari berharap dapat di terima sebagai karyawan di PT. Inco Sorowako.

Sementara itu, Tagana Luwu Timur  dibawah koordinasi Sdr. Joni bahu membahu dengan BPBD setempat yang dipimpin kepala badan, Ir. Sulaeha, beliau akrab disapa “BUNDA”  sangat kooperatidf dengan anak-anak Tagana, sehingga tenda orange milik BPBD dan tenda biru milik Kemeterian Sosial didirikan berdampingan di lapangan Karebosi Sorowako, koordinasi semacam ini yang perlu terus ditumbuhkembangkan untuk penanganan bencana dimasa mendatang baik sebelum bencana terjadi, ketika masa  tanggap darurat maupun pada pascabencana terjadi.

TRC kembali ke Makssar

Usai melaksanakan tugas, tim TRC menelusuri kembali lintasan ke Makassar melalui jalur tengah, dari Sorowako ke Palopo melintas di Kabupaten Luwu terus Wajo, mamasuki jalur Bone dan kawasan Camba yang berkelok-kelok seperti jalan raya Nagrek Jawa Barat, dan semua tim kembali dalam kondisi sehat selanjutnya mempersiapkan diri untuk menuju lokasi pengabdian yang baru di Wasior Papua Barat.

One comment

  1. terimakasih sudah berbagi berita-berita luar biasa ini pak membuat kami kut waspada akan bahaya kebakaran , terimakasih juga usah follow smp 3 lembang pinrang

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *