Neneknya Fadel

Suasana hati di siang hari, 17 November 2011  terasa begitu hampa, semua ini berawal dari pernyataan sang komandan yang membuat statmen kalau bidang yang kami kelola tidak dapat memberikan pertanggungjawaban, terutama pada sisi yang terkait akutansi sehingga harus tiga kali sang komandan memanggil pengelola keuangan.

Kondisi itu diperparah lagi dengan calon peserta yang diajukan untuk menjadi peserta jambore memiliki nama yang ganda, sehingga menambah deretan kesalahan yang harus dipertanggungjawabkan. Catatan-catatan ringan itu segera kami laminating untuk dapat menjadi kenangan kelak dipenghujung pengabdian.

Terkadang ingin rasanya melepas semua atribut dan melakukan langkah yang kontraproduktif, namun setelah merenung dalam ruang kerja, dalam kesenyapan perasaan sembari menatap langit-langit tentang untung ruginya, akhirnya tiba pada kesimpulan.

Tak pernah ada anak buah yang menang, petuah sang pendahulu kini kembali terngiang, bayangan seseorang yang nun jauh disana, mengingatkan padaku akan pentingnya kearifan, ketenangan dalam bersikap dan tetap profesional dalam melaksanakan tugas negara.

Kucoba mengurai perasaan hati, dalam suasana kekalutan datanglah seseorang yang juga ingin meminjam uang karena cicilan motornya harus dibayar hari ini, permintaannya belum langsung saya penuhi dan menjanjikan padanya untuk datang esok harinya. Hati ini terus bergejolak antara kemarahan, kekesalan dan rasa menantang sebagai seseorang yang selama ini sudah merasa mati-matian bekerja namun terkesan tidak ada apa-apanya.


Kutenangkan diri ini dalam kesendirian, kurenungkan kembali saat-saat awal komandan menduduki pucuk kepemimpinan, semuanya begitu indah dan bersahaja, kami bekerja dalam suasan kegembiraan, tetapi menjelang masuk akhir tahun 2011 suasana sedikit terganggu dan kurang kondusif, silaturahmi terasa hambar dan terasa ada yang kurang dihati. Suasana itu kami pendam sambil menjaga itrama agar pekerjaan dapat berjalan sesuai arasnya.

Kurekam semua gejolak hati ini dalam tulisan yang mengalir bersama sukma yang terasa hambar, kubiarkan perasaan ini berkecamuk dalam dada yang sudah terasa sesak, siaran radio dan televisi yang selama ini selalu berkumandang, sengaja kumatikan untuk mendengar suara hati nurani, kupaksakan tangan ini untuk menindis tuts-tuts laptop dan membiaskan perasaan hati dalam tulisan, laksana sebuah pemberontakan yang entah kemana harus kutumpahkan.
Perlahan desah nafasku kutata, posisi duduk mulai kuatur, disetiap ruangan kerjaku seakan berkata “ makanya jangan terlalu forsir tenagamu, simpankan waktumu untuk sejenak santai “ seakan memaki diriku dalam kehampaan.

Akh….. desah nafas itu, kini kembali menggeliat, memaksa untuk mencari sebuah pembenaran, pemberontakan dan pelampiasan, namun di sudut  hati kecil berkata lirih ; orang yang besar itu, adalah orang yang mampu menata kemarahan, perlahan tangan ini menindis tuts laptop dengan irama yang seakan bertasbih, pelan tapi pasti  dari dalam dada ini ada ruang dan sekat yang memberi kelonggaran, wajah yang memerah kini sedikit mengendur dan ini tidak disaksikan oleh siapa-siapa, hari ini adalah hari dimana dia bertanya, pada dirinya sendiri.

Kucoba untuk menata semua kekesalan, kemarahan dan kedongkolan ini dalam bingkai yang cerdas, perlahan menarik nafas, perlahan-laha kulepas, sambil bertasbih, berdzikir dalam dalam hati, terkenang akan seseorang yang telah memberiku kearifan yang mendalam, yang seakan hadir tersenyum manis, mentertawakan diriku dalam balutan kalut yang terkungkung. Kucoba kugapai tangannya, terasa dingin, hampa se-hampa perasaan ini saat naskah ini kutuangkan, akh….ini halusinasi atau rontoknya pertahanan kalbu ??? Tidak, jawabku tegas…. Kami harus keluar kemelut ini, tiba-tiba bunyi hanphone memecah lamunan itu, hallo …. saya neneknya Fadel.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *