PESONA PANGANDARAN DI BELAHAN CIAMIS


Ketika matahari kan tenggalam di kaki langit , melangkah pelan disapa senja. Atau ketika terbit dijemput siang dengan semburat merah meronanya, menjadi pesona yang menakjubkan. Demikian mempesonanya kawasan pariwisata Pangandaran yang terhampar dibelahan Ciamis selatan telah menggerakan musisi asal bandung, Doel Sumbang menggoreskan tintanya dalam lirik tembangnya bernuansakan cinta kasih yang selaras dengan keleokan pantai  Pangandaran.

Kabupaten Ciamis memang identik dengan pantai Pangandarannya. Tetapi sebenarnya memiliki potensi pariwisata yang beragam baik wisata alam, wisata budaya maupun wisata minat khusus. Dwi wilayah Selatan saja, ada Batu Karas, Batu Hiu, Green Canyon. Di Wilayah Tengah dan Utara terdapat Karang Kamulyan, Situ Lengkong ( Panjalu), Astana Gede (Kawali) dan Destinasi wilayah lainnya yang berbasis alam. Bahkan di Pangandaran terdapat “Mosquito Theater” yaitu destinasi wisata ilmiah satu-satunya di Indonesia. Oleh karena itu, tak heran jika sector pariwisata dari sembilan potensi daerah merupakansalah satu bisnis andalan di Kab. Ciamis yang berada pada urutan kedua produk domestik regional bruto
(PDRB) setelah pertanian.
“Secara factual sector pariwisata mampu memberikan kontribusi pendapatan daerah, meski hal itu dihadapkan pada berbagai tantangan, diantaranya bagaimana meningkatkan rata-rata lama tinggal (length of stay), menciptakan destinasi wisata yang sesuai dengan standar produk wisata, serta menciptakan varian wisata baru yang kompetitif sesuai dengan tuntutan pasar, “ujar Kepala DinasKebudayaan dan Pariwisata Ciamis, Drs. H. CU Herman, S.MM didampingi sekdis Drs. Muklis dan Kabid Destinasi  Pemerintah Daerah kabupaten Ciamis.
Untuk itu, lanjut dia, diperlukan strategi inovatif melalui penguatan jejaring kepariwisataan dan optimalisasi peran masyarakat dalam pengembangan kepariwisataan (community based tourism). “Terlebih tantangan itu ditambah terjadinya bendana Tsunami di kawasan Pangandaran Juli 2006 silam, hingga kepariwisataan di Kab. Ciamis pernah mengalami keterpurukan secara signifikan yang berimplikasi langsung terhadap arus kunjungan wisata yang merosot tajam hingga 70 % , “ungkapnya.

Pasca Tsunami
Pasca Tsunami pemulihan kawasan pantai Selatan terus dilakukan melalui dukungan pemerintah kabupaten, provinsi  dan pusat serta pihak-pihak lainnya seperti insan pariwisata, masyarakat dan lembaga dunia United Nation World Tour Organization (UNWTO). “Bencana gempa dan Tsunami di kawasan Pangandaran menjadi momentum dalam meretas  pengembangan pariwisata berkelanjutan. Konsep tersebut disusung oleh UNWTO yaitu sebuah lembaga kepariwisataan dunia dibawah PBB yang menaruh perhatian khusus kepada Negara-Negara yang memiliki destinasi wisata yang rusak akibat tsunami. Dan Pangandaran ditetapkan sebagai pilot projek program UNWTO di Indonesia, “jelas H.Cu Herman.

Menurutnya program tersebut diaktulisasikan pada penyusunan dokumen pariwisata berkelanjutan (Tourism Management Plan) yang disusun berdasarkan partisipasif dan representasi masyarakat lokal ( Local Working Group)


“Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, telah mengangendakan sebuah pendekatan dalam pengelolaan kepariwisataan melalui pembentukan DMO (Destination Managament Organization) atau tata kelola destinasi pariwisata di Indonesia, Pangandaran merupakan salah satu diantaranya termasuk kawasan Danau Toba Sumatera Utara,”beber H.CU Herman.

Hal penting terkait perencanaan pengembangan kepariwisataan di kab. Ciamis adalah tersedianya dokumen RIPPDA (Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah), yang mana melalui RIPP dapat dilakukan penetapan zona wisata, sekaligus perencanaan kepariwisataan secra komprehensif berdasarkan karakteristik wilayah.

“Meskipun dalam dokumen RPJPD tahun 2005-2025 dan RPJMD Kab. Ciamis tahun 2009-2014 mencakup bahasan mengenai kepariwisataan, baik kondisi, potensi, tantangan maupun strategi kebijakannya, namun secara detail teknisnya masih memerlukan RIPPDA sebagai acuan dalam pengembangan Kepariwisataan. Dalam RIPPDA Jawa Barat, Pangandaran telah ditetapkan sebagai Kawasan Wisata Unggulan (KWU) untuk rekreasi Pantai, sedangkan dalam konstelasi nasional, Pangandaran merupakan Pusat Kegiatan Nasional, “paparnya.


Posisi strategis inilah yang kemudian menjadikan Pangandaran memiliki  Selling Point baik pada tatanan lokal, regional, nasional, bahkan international. Program UNWTO di Kawasan Pangandaran juga berdasarkan ebaluasi delegasi PBB dinilai cukup berhasil sehingga mendapatkan rewrd,”kata H.CU Herman menambahkan.
Prime Over 
Tidak dapat dipungkiri bahwa pariwisata telah menjadi prime mover (penggerak utama) perekonomian, dimana investasi di bidang pariwisata kemudian menjadi sebuah peluang dimasa. Depan. Untuk itu, perlu ditopang dengan kesiapan regulasi sumberdaya manusia (SDM) maupun ketersediaan pendukung lainnya. “upaya meretas investasi di bidang pariwisata telah dilakukan melalui keikutsertaan Kab. Ciamis dalam agenda Business meeting pengembangan pariwisata di Abu Dhabi (uni Emirat Arab) pada desember 2010, dimana Kab. Ciamis mengusung proposal project yaitu “Wilhelmina Heritage Tour Train” dan Pangandaran Ocean Park”. Berdasarkan hasil analisis investasi, kedua project tersebut dianggap prospektif untuk ditawarkan pada investor. Selanjutnya bagaimana membangun kesiapan daerah dalam menarik investasi melalui kesiapan regulasi, perijinan, serta dukungan SDM, “katanya.

Wilmenina Heritage Tour train, terangnya, merupakan sebuah konsep wisata sejarah dimana kereta api warisan belanda akan mengajak para wisatwan menyusuri keelokan alam. Sementara Pangandaran Ocena Park, merupakan wahana yang menintegrasikan antara reksreasi dan edukasi yang terbagi ke empat zona yakni museum OceanologiAquarium Raksasa, Wisata Selam serta Kolam Atraksi aneka laut.

Selanjutnya ia berharap obyek wisata ciamis selatan dari karapyak, Pangandaran, Batu Hiu , Batu Karas Cukang Taneuh samapai Pantai Madasari bisa menjadi satu kesatuan dengan obyek wisata lain di wilayah Jabar Selatan, Sehingga wisata domestic dan mancanegara setelah berkunjung  dari obyek Sukabumi dapat melanjtkan wisata ke cianjur Garut, Tasikmalaya, Tembus ke Ciamis atau sebaliknya. Harapan itu, imbuhnya, sangat memungkinkan karena ditunjang kondisi jalan lintas selatan yang realtif baik. Terlebih, rencana Pemprov Jabar saat ini tengah membuat masterplan 2012. Manfaatnya tak sebatas peningkatan retribusi tetapi diharapkan mampu peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.

“Dalam rangka membangun infrastruktur di Batu Hiu, Batu Karas, Green Canyon, dan cagar Alam telah dibangun lahan parker, Jios cinderamata, Gazebo, pagar Pembatas Pantai, penerangan dermaga serta penampakan daya listrik yang diharapkan bisa menambah betah para wisatawan,”pungkas H. Cu Herman.

Di Kutip dari  Sumber Tulisan Kabid Destinasi – Dispar Pemkab Ciamis

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>