Relung-relung Kehidupan

Senja merangkak menggapai malam, mobil-mobil dari berbagai merek masih saja melintas menerobos kepadatan lalu lintas. Malam itu bertepatan dengan jumat kliwon sepuluh november dua ribu sebelas.

Kepenatan dari kesibukan keseharian masih terasa, tetapi entah mengapa di penghujung tahun dua ribu sebelas, begitu getol membuat naskah yang akan dipublikasi melalaui blogspot, tak satupun momentum terlewatkan, semua seakan saling berlomba diantara tugas dan penulisan.

Kali ini kucoba kembali menelisik relung-relung perjalanan dalam keseharian, rutinitas dan seabrek tugas yang seakan tiada habisnya, barulah kusadari bahwa pekerjaan itu ada sebelum kita lahir, karena itu jangan pernah berharap pekerjaan akan selesai, kecuali hanya sekedar tuntas walau sesaat.

Aku pun menjadi bingung kemana topik itu akan kubahas, karena semua menuntut untuk digoreskan melalui perangkat komputer yang dimasa lalu hanya bisa dicetuskan melalui mesin ketik tua dan hasilnya kurang maksimal. 

Lama merenung di depan laptop, namun tak satupun melintas kisah kasih dimasa silam, malam ini hanya sekedar tersadarkan bahwa malam jumat itu adalah malam kebesaran, saya pun tak pernah memahami arti kata bersayap itu.


Namun semua anganku hilang, saat sebuah pesan singkat melalui telepon genggam bergetar, nadanya sedikit bernada himbauan, menulislah…. menulislah karena dibalik tulisan itu ada magnet yang membuat dunia ikut bergetar, karena betapa dahsyatnya kasih dan sayang yang telah disemai sekian lama, ujarnya lirih.

Fikiran yang kalut dan tenaga yang mulai terkuras memaksaku untuk berhenti, namun menjelang subuh hari di hari Jumat, 11-11-2011 kembali kutunaikan tugas penulisan seusai sholat subuh kutunaikan.

Ya Rabb, terbayang kembali saat-saat memulai karier sebagai calon pegawai negeri, merantau ke negeri seberang, berkenalan dengan banyak hamba Allah dari berbagai daerah, menjalani hidup dengan segala keprihatinan dan begitu terasa bahagia, berkarier, membenahi dan memperbaiki kehidupan hingga akhirnya membuahkan catatan hidup yang terbuang sayang terbaca ulang.


Menjelang usia akan berakhir di gelanggang pengabdian, terasa baru seperti kemarin saja kami bekerja, akh…. waktu, betapa cepatnya berlalu, kini rasanya ingin merefleksi kembali jejak-jejak perjalanan dengan segala romantisme, tantangan dan sekaligus keberhasilan yang dibumbuhi dengan keindahan asmara yang seakan tak pernah ada habisnya, ia seakan berjalan bersama relung-relung kehidupan di mayapada ini.


Makassar, 11-11-2011
Kupersembahkan buat seseorang
Yang telah menempati relung hatiku
Dalam persemayaman kasih yang abadi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *